Saat mendengar nama Savannah, kebanyakan orang mungkin akan membayangkan suasana kota lama yang tenang, jalanan batu dengan Spanish moss yang menjuntai, dan deretan rumah klasik bergaya Georgian dari era Antebellum. Tapi di balik semua itu, ada sisi lain yang jarang disadari. Di antara taman-taman kecil yang rapi dan sudut kota yang terasa nostalgia, ternyata berdiri juga bangunan-bangunan bergaya Moderne dan Midcentury Modern yang tampil berbeda, lebih berani, dan menjadi kontras yang menarik di tengah suasana klasiknya.


Di salah satu sudutnya, ada sebuah bangunan pascaperang setinggi enam lantai, First Federal Savings & Loan Association Building, karya firma arsitektur Levy and Kiley yang berdiri di sepanjang Broughton Street. Selama puluhan tahun, bangunan ini dikenal lewat tampilan granit abu-abunya yang rapi, bingkai beton putih, dan dinding mozaik biru yang khas. Kini, bangunan itu beralih fungsi menjadi Municipal Grand Hotel dengan 44 kamar, setelah diolah ulang oleh AAmp Studio bersama Ward Architecture + Preservation.




Dibanding menutupi sejarah lamanya, tim desain justru membuka lapisan-lapisan yang sudah ada, lalu menonjolkan tekstur materialnya dengan cara yang lebih berani. Dari situ, elemen lama tidak hanya dipertahankan, tapi juga dijadikan pijakan untuk menghadirkan perubahan baru yang sifatnya non-struktural.


Andrew Ashey dari AAmp Studio sempat mengatakan, “Tantangan mengubah bekas bank berstatus bangunan bersejarah ini menjadi hotel layanan penuh sudah terasa sejak awal.” Namun, alih-alih melihatnya sebagai hambatan, ia menjelaskan bahwa proses tersebut justru dipandang sebagai kesempatan untuk merangkai elemen lama dan baru dalam satu kesatuan desain yang lebih utuh dan selaras.




Hasilnya terlihat dari detail-detail yang seperti disisipkan dengan sangat presisi. Ada sentuhan bentuk lengkung, finishing yang halus, tapi tetap memiliki referensi kuat ke karakter awal bangunan. Elemen baru ini memang dibuat berbeda, tapi tetap menghormati elemen bangunan yang sudah ada. Pendekatan ini mengingatkan pada pemikiran Eugène Viollet-le-Duc, yang percaya bahwa menjaga relevansi bangunan lewat perkembangan zaman lebih penting daripada sekadar meniru bentuk lamanya.


Baca juga: Zaha Hadid Architects Rancang Distrik Budaya di Hangzhou




Perubahan juga terasa sejak area masuk. Dahulu mungkin terkesan tertutup, sekarang justru dibuat lebih terbuka dengan pencahayaan hangat dan area duduk yang nyaman. Tanaman hijau pun menjadi elemen transisi yang memperhalus pertemuan antara ruang luar dan dalam. Saat masuk, pengunjung akan langsung disambut oleh lobby dua lantai yang luas, lengkap dengan bar besar dan berbagai pilihan tempat duduk. Kolom-kolomnya masih dibalut mozaik biru asli, sehingga memberi karakter yang kuat di tengah suasana baru.






Karena penggunaan material yang konsisten, nuansa tropical modern juga terasa di seluruh area publik, cocok dengan iklim yang panas dan lembap. Ada sentuhan inspirasi dari Roberto Burle Marx melalui motif botani, serta pendekatan organik khas Oscar Niemeyer. Tempat ini pun dirancang hidup sepanjang hari, dari restoran keluarga di siang hari hingga bar yang ramai di malam hari. Tidak hanya itu, ruang rapat lama bank sekarang diubah jadi ruang makan privat yang lebih intim.




Untuk kamar, suasananya dibuat lebih tenang dengan warna-warna pasir yang lembut, dan tetap selaras dengan gaya Midcentury Modern. Sentuhan desain dari Alvar Aalto juga terasa, terutama pada detail bentuk dan material. Area transisi menuju kamar dibuat seperti vestibule dengan warna hijau pekat, lalu mengarah ke ruang utama yang lebih hangat.


Di dalamnya, ada meja marmer merah yang difungsikan sebagai minibar sekaligus meja kerja, cermin lengkung, sofa built-in yang nyaman, hingga headboard empuk yang menambah kesan rileks. Lantai terrazzo dengan detail halus menyatukan semuanya, sementara beberapa suite memiliki balkon pribadi dengan pemandangan ke Broughton Street.






Secara keseluruhan, proyek ini terasa seperti pertemuan yang pas antara konteks lokal dan referensi desain global. Bangunannya sendiri tetap membawa cerita tentang masa lalu, tapi dengan cara yang lebih segar dan relevan.




Sumber foto: Brooke Holm