-
Chris Godfrey - Co-CEO HBA (Hirsch Bedner Associates)
Waktu hampir satu jam terasa tidak cukup untuk berbincang dengan Chris Godfrey. Dalam obrolan bersama CASA Indonesia, Co-CEO HBA (Hirsch Bedner Associates) ini berbagi tentang perjalanan karier dan pengalamannya selama lebih dari 25 tahun, mulai dari awal pertemuan dengan tim HBA, memimpin divisi HBA Residential pada 2014, hingga akhirnya diangkat sebagai Co-CEO pada tahun 2022.
Menjelang akhir percakapan, ia sempat berkata, “I am no longer an architect in the true sense.” Sebuah pernyataan yang terdengar mengejutkan. Namun, setelah mendengar keseluruhan ceritanya, pernyataan itu justru terasa logis. Chris kini mentransformasi design thinking yang selama ini menjadi pondasinya saat praktik sebagai arsitek menjadi pendekatan strategis dalam menjalankan bisnis di biro desain HBA.


Conrad Jiuzhaigou, Tiongkok
Pendekatan inilah yang turut menjadi salah satu keunikan HBA sebagai firma desain global yang berakar kuat di industri hospitality. Didirikan pada 1965, HBA berkembang dengan pendekatan lintas disiplin yang memungkinkan keterlibatan dari tahap konsep hingga arah strategis sebuah proyek. Dengan 29 kantor yang tersebar di berbagai belahan dunia dan lebih dari 1.500 staf, HBA tidak hanya bergerak sebagai biro desain, tetapi juga sebagai organisasi yang memadukan kreativitas bersama strategi bisnis pada waktu bersamaan.

Conrad Jiuzhaigou, Tiongkok
Bagaimana awal mula Chris Godfrey bergabung dengan HBA?
Sebelum bergabung dengan HBA pada tahun 2014, Chris pernah menjabat sebagai Creative Director di 1508 London begitu pula pernah mendirikan Scape Architects pada tahun 2000. Pertemuan pertamanya dengan HBA terjadi saat mengerjakan proyek berlokasi di Goa, India. Sebagai arsitek, ia terbiasa membedah elemen arsitektural secara struktural dan metodikal sehingga dapat memahami bentuk, budaya, hingga sejarah tempat proyek tersebut akan berdiri.

Chedi Xinchang, Tiongkok
Sementara HBA saat itu melakukan pendekatan yang berbeda. Mereka justru memperhatikan detail yang lebih bernilai puitis, seperti unsur flora, fauna, hingga bisa pula membangun narasi dari hal sederhana seperti biji pala yang terlihat hadir di lokasi tersebut. Perbedaan perspektif ini pula membuat kolaborasi antara keduanya menjadi terasa menarik.

Four Seasons Hotel, Kyoto, Jepang
Ditambah dengan keinginan Chris untuk terus belajar akan budaya baru dan mengeksplorasi pola cara kerja yang berbeda, ia akhirnya bergabung dengan HBA serta memulai fase baru kariernya.

Fairmont Breakers Long Beach, Amerika Serikat
Apa yang membuat HBA mampu bertahan dan terus berkembang selama lebih dari 60 tahun?
Menurut Chris, salah satu alasan HBA mampu bertahan lebih dari 60 tahun di industri yang kompetitif adalah karena timnya tidak hanya berpikir sebagai desainer, tetapi juga berkembang sebagai pelaku bisnis. Ada semangat entrepreneur yang kuat, yaitu keinginan untuk terus bertanya, belajar, mencoba hal baru, hingga berani menghadapi tantangan dan kegagalan. Mentalitas ini mendorong HBA untuk terus bereksperimen, menantang status quo, dan membuka peluang baru dalam perjalanan selama biro ini berdiri.
Perkembangan biro desain juga berkaitan erat dengan bantuan teknologi dan pendekatan yang lebih sustainable. Tak jarang, satu proyek bisa melibatkan 6–7 konsultan berbeda yang bekerja dari berbagai negara secara simultan mengolah satu proyek yang sama berkat kemudahan teknologi di dunia desain masa kini.

Jumeirah Marsa Al Arab, Dubai, UAE
Setiap proyek dapat dikatakan menggunakan pendekatan studi kasus. Pihak yang berpartisipasi akan memahami lokasi secara langsung, menggali budaya dan cerita sejarah di baliknya. Berbekal keberagaman perspektif dari multidisiplin yang dimiliki HBA, akhirnya meracik visi desain yang relevan sesuai kebutuhan, kontekstual, serta terintegrasi secara keseluruhan. Jadi tak heran saat HBA terlibat, biro ini akan turut merencanakan solusi dalam hal lanskap, arsitektur, interior, kurasi karya seni, desain produk, dan masih banyak lagi.

Fairmont Breakers Long Beach, Amerika Serikat
Baca juga, Episode Gading Serpong: Hotel Bintang 4 Terbaik di Banten
Bagaimana HBA melihat perubahan tren desain global saat ini?
Dalam tiga hingga lima tahun terakhir, pandemi COVID-19 telah mengubah banyak aspek gaya hidup dan pasar desain. Pendekatan yang lebih domestik membuat HBA semakin menekankan pentingnya kontekstualisasi dalam setiap proyek.
Sebagai respons, HBA mulai mengembangkan studio berskala kecil atau atelier yang lebih spesifik menangani konteks tertentu. Model bisnis seperti ini turut memungkinkan distribusi sumber daya manusia yang lebih fleksibel dan sesuai target pasar.

SHA Wellness Resort, Residences & Villas, Al Jurf, Ajman, UAE
Pendekatan ini turut mulai diterapkan di Meksiko melalui pembukaan HBA Mexico City. Kemudian juga akan berkembang ke kawasan baru di Amerika Latin, seperti Brazil lewat kehadiran HBA Sao Paulo. Tak berhenti di rencana itu saja, HBA juga memperluas jaringan globalnya melalui kehadiran HBA Istanbul di Eropa serta HBA Kuala Lumpur di Asia.


Conrad Tulum Riviera Maya, Meksiko
Apa latar belakang dibalik mendirikan divisi HBA Residential?
HBA melihat peluang menarik saat melihat munculnya branded residence sekitar 15 tahun lalu. Branded residence merupakan hunian eksklusif yang berafiliasi dengan brand ternama di industri seperti hospitality, fashion, maupun otomotif. Hunian ini menyediakan fasilitas setara hotel, pengelolaan profesional, serta tingkat keamanan yang lebih tinggi.


SHA Wellness Resort, Residences & Villas, Al Jurf, Ajman, UAE
Melihat peluang untuk menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi, HBA mulai mengembangkan berbagai divisi yang menargetkan hal ini. Salah satunya adalah HBA Residential yang kini beroperasi secara luas di berbagai kawasan global. Dalam divisi ini menerjemahkan ide menjadi solusi nyata dan detail. Dimulai dari penataan ruang, pemilihan material, hingga warna dan bespoke furniture demi menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menginspirasi.


Residences at Jumeirah Marsa Al Arab, Dubai, UAE
Seiring waktu, HBA juga tunjukan kapabilitas multidisiplinernya dengan kehadiran berbagai spesialisasi desain termasuk arsitektur, hospitality dining concepts melalui SOCIAL F+B, serta desain lanskap melalui Coopers Hill. Secara keseluruhan, divisi dengan expertise seperti lighting design, signage, grafis, hingga art consultancy, semuanya juga dibangun untuk memperkuat inti bisnis dalam biro. Pendekatan ini ingin menunjukkan bagaimana HBA bertumbuh inside out memperluas kapabilitasnya secara strategis untuk menangani proyek berskala besar.
Baca juga, Wow! Herloom Hotel Lengkap dengan Kulkas & Mesin Cuci
Apa strategi HBA di masa mendatang, termasuk di Indonesia?
Saat ini, HBA memiliki berbagai studio dan spesialisasi desain yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar secara spesifik di berbagai belahan dunia. Sebagai perusahaan desain global yang berkantor pusat di Singapura, berkat dukungan jaringan studio yang beroperasi secara independen dan kontekstual, ini memungkinkan setiap tim merespons budaya dan karakter lokal secara autentik.


Noema Resort, Bali, Indonesia
Bagi HBA, topik hospitality bukan sekadar estetika desain, tetapi memahami secara mendalam akan konteks, budaya, dan lingkungan. Sementara di Indonesia, HBA perkuat kehadirannya lewat studio di Jakarta dan Bali dengan lebih dari 100 desainer secara keseluruhan. Bali dinilai miliki potensi untuk terus berkembang sebagai pusat kreativitas global bagi desain resor dan wellness. Sedangkan Jakarta menunjukkan pertumbuhan signifikan pada sektor luxury residential dan branded living. Kedua kawasan dengan nilai berbeda memproyeksikan adanya peningkatan apresiasi akan desain yang relevan dalam konteks budaya serta berkelanjutan.


Regent Bali Canggu, Bali, Indonesia
Baca juga, Menelusuri Keanggunan Bali di Regent Bali Canggu
Bagaimana definisi luxury dalam lingkup desain di masa kini?
Keyword luxury tidak lagi semata hanya tentang kemewahan visual, namun lebih kepada authenticity, craftsmanship, dan emotional connection. Chris melihat bahwa definisi luxury juga sangat erat dengan topik wellness. Hospitality tidak lagi hanya sekadar menyediakan fasilitas, tetapi bagaimana menciptakan pengalaman ruang yang holistik dan intensional. Mulai dari makanan, kesehatan fisik dan mental, pencahayaan, kualitas udara, hingga integrasi alam, semua elemen ini menjadi bagian penting dalam perancangan.

Kimpton Qiantan Shanghai, Tiongkok
Dengan demikian, pengalaman ruang begitu peka akan nilai sustainability dan sensory comfort yang diperkaya integrasi alam, seni, dan teknologi secara lebih subtil dan intuitif. Konsep wellness itu sendiri bukan lagi tentang aktivitas yang dilakukan sendiri, tetapi justru bersifat komunal.

The Ritz-Carlton Rabat, Dar Es Salam, Maroko

Apa visi yang masih ingin dicapai oleh Chris Godfrey ke depan?
Kini, Chris tidak lagi menjalankan peran arsitek dalam arti konvensional. Namun, design thinking yang ia miliki justru menjadi pondasi dalam perannya sebagai pemimpin bisnis. Mengelola HBA sebagai organisasi global dengan sekitar 300-an proyek tiap tahunnya, ia melihat masa depan bisnis ini sebagai entitas yang tidak hanya berfokus pada desain, tetapi juga mengelevasi ke arah strategi dan advisory.

Conrad Tulum Riviera Maya, Meksiko
Saat melihat jaringan global HBA yang terus berkembang di berbagai belahan dunia, Chris mencetuskan sistem untuk menggabungkan beberapa hal demi hadapi situasi sulit bermobilisasi yang ditemui saat masa pandemi. Sampai akhirnya ia menutup percakapan dengan satu prinsip sederhana namun bernilai signifikan. “The whole is greater than the sum of its parts.” Sebuah refleksi bahwa integrasi yang tepat menyatukan hal-hal beragam namun saling berkaitan, dapat menghasilkan nilai yang jauh lebih besar dibandingkan jika setiap bagian berjalan sendiri-sendiri. Ini selaras pula dengan filosofi OneHBA yang dibangun atas prinsip integrated design, collective excellence, dan exceptional delivery.

The Delmore Residences, Miami, Amerika Serikat
Sumber foto: HBA (Hirsch Bedner Associates)
-




