-
Kondisi desain pada bangunan bersejarah yang masih dihuni biasanya cukup kompleks, karena ruangnya perlu mengakomodasi kehidupan modern tanpa menghilangkan nilai yang membuatnya layak dipertahankan sejak awal.
Proyek Penthouse Frankfurt, yang dirampungkan oleh studio dan workshop berbasis Munich, Holzrausch, bergerak di antara dua kebutuhan yang saling berkesinambungan ini. Warisan era Wilhelminian menghadirkan tata bahasa arsitektur yang khas, mulai dari pelat lantai yang dalam, ruang-ruang dengan proporsi luas, hingga dinding struktural yang kokoh.
.jpg)
Alih-alih menyamarkan kondisi tersebut atau menjadikannya sekadar latar, Holzrausch justru mengolah struktur yang sudah ada sebagai bagian penting dari keseluruhan konsep.
Dapur modern di hunian ini tampil hangat dengan dinding panel kayu, pulau dapur berbahan baja tahan karat di tengah ruang, lantai berwarna terang, serta jendela besar yang menghadap pepohonan. Cahaya alami masuk melalui skylight berbentuk lingkaran, sehingga memberi nuansa terang sepanjang hari.
.jpg)
Penambahan lantai atap dua tingkat menjadi langkah paling berani sekaligus paling memperjelas arah desain proyek ini. Dengan membangun volume baru di atas struktur lama, proyek ini menghadirkan batas yang jelas antara bagian yang sudah ada dan intervensi baru.
Di dalamnya, material Kambala, yaitu kayu keras asal Afrika dengan serat berwarna amber yang akan menua dengan indah digunakan sebagai panel penuh dari lantai hingga langit-langit, menghiasi ruangan, elemen built-in, hingga area sirkulasi sebagai satu kesatuan visual.
.jpg)
Di area dapur, baja tahan karat dengan finishing brushed yang hangat dipadukan dengan terrazzo dan kayu berwarna gelap. Holzrausch bekerja sama dengan para desainer, perencana konstruksi, dan pengrajin dalam proses yang terus saling terhubung, sehingga mampu merapikan dan menyatukan perpaduan berbagai elemen ini dengan lebih menyeluruh. Oleh karena itu, hasil akhirnya terasa menyatu karena setiap elemen dirancang dengan saling terhubung.
.jpg)
Ruang keluarga dibuat modern dengan dilengkapi dua kursi beludru hijau, lampu lantai melengkung, perapian yang menempel di dinding, susunan kayu bakar, serta jendela besar yang mengarah ke lanskap hijau di luar.
Baca juga: Ubin Portinari Jadi Transformasi Ruang di Conjunto Nacion
Klien datang dengan koleksi seni yang membutuhkan ruang dengan dinding yang tidak saling bertabrakan secara visual, serta alur sirkulasi yang membuat setiap karya bisa dinikmati dengan lebih fokus. Kebutuhan ini kemudian dikembangkan ke dalam susunan ruang yang terasa tenang dan mengalir.
Lapisan Kambala pun berperan sebagai latar visual yang hangat, cukup untuk memberi sentuhan humanis tanpa mengalihkan perhatian dari karya yang dipamerkan. Pendekatan seperti ini sering dianggap sulit dicapai, karena hunian yang berdampingan dengan galeri sering kali terjebak antara dua pilihan: terlalu netral seperti white cube atau justru terlalu ekspresif hingga mengalahkan keberadaan koleksi seni.
.jpg)
Sumber foto: Salva Lopez
-




