-
Bjarke Ingels / BIG Media
Karyawan Bjarke Ingels Group (BIG) menggelar aksi demonstrasi di luar kantor BIG London, 3 Februari 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap rencana pemutusan hubungan kerja massal yang diumumkan manajemen sejak Desember 2025 dan mulai dijalankan pada 5 Januari 2026. Aksi ini diorganisasi oleh Unite the Union melalui Section of Architectural Workers (SAW), serikat pekerja untuk profesional arsitektur di Inggris.
.jpg)
SAW-Unite
72 Karyawan Terancam Kehilangan Pekerjaan
Dari sekitar 160 karyawan BIG di kantor London, lebih dari separuhnya merupakan anggota SAW. Sebanyak 72 orang disebut berisiko terdampak PHK, menyusul dihentikannya sebuah proyek besar yang selama ini menyerap hampir setengah tenaga kerja studio London. Serikat Unite mengungkapkan bahwa proyek yang dibatalkan tersebut berada di Arab Saudi, meski manajemen BIG tidak menyebutkan detail proyek secara spesifik.
.jpg)
SAW-Unite
Manajemen BIG menyatakan bahwa proyek tersebut dihentikan pada akhir November 2025 karena faktor di luar kendali perusahaan. Dalam pernyataannya, pihak BIG menegaskan bahwa seluruh tim telah diinformasikan sejak awal dan proses redundansi dilakukan sesuai dengan prosedur dan regulasi ketenagakerjaan Inggris.
Baca juga, Arsitek Bjarke Ingels Jadi Cameo di Game of Thrones
Enam Tuntutan Serikat Pekerja
Dalam aksinya, Unite-SAW menyampaikan enam tuntutan utama kepada pimpinan BIG, antara lain pengakuan resmi terhadap serikat pekerja, keterlibatan perwakilan karyawan dalam proses pengambilan keputusan, serta konsultasi yang bermakna untuk mencari alternatif selain PHK.

SAW-Unite
Serikat juga menuntut transparansi keuangan, perlindungan bagi pekerja dengan visa kerja yang pindah ke London demi proyek tersebut, serta jaminan enam bulan gaji bagi karyawan yang terdampak redundansi. Menanggapi tuntutan tersebut, pihak BIG menyatakan tidak berada dalam posisi untuk memenuhi permintaan tambahan enam bulan gaji, namun menegaskan komitmen untuk terus berdialog secara konstruktif dan adil.
Dukungan dari Mantan Presiden RIBA
Mantan Presiden RIBA (Royal Institute of British Architects), Angela Brady, turut memantau situasi ini. Ia menyatakan keprihatinannya atas rencana PHK massal di kantor BIG London dan menilai masih terdapat cukup pekerjaan untuk mempertahankan tenaga arsitek yang ada.
.jpg)
SAW-Unite
Brady juga menekankan pentingnya praktik arsitektur yang menghormati keseimbangan hidup dan kesehatan mental karyawan, serta mengkritik budaya jam kerja panjang dan sistem hire and fire yang semakin mengancam profesi arsitektur. Ia menyatakan dukungannya terhadap aksi demonstrasi jika hal tersebut diperlukan untuk mendorong hasil yang adil dan masuk akal.
Baca juga, CopenHill Karya BIG Menjadi Bangunan Industrial Terbaik
Tiga Proyek Ikonis dari Bjarke Ingels Group
Bjarke Ingels Group (BIG) dikenal lewat pendekatan arsitektur yang eksperimental dan kontekstual. Dalam beberapa tahun terakhir, firma asal Denmark ini mencuri perhatian dunia melalui proyek-proyek berskala besar yang memadukan desain visioner, teknologi mutakhir, dan isu keberlanjutan.

Suzhou Museum of Contemporary Art / Ye Jianyuan
1. Suzhou Museum of Contemporary Art (Tiongkok)
Suzhou Museum of Contemporary Art dirancang sebagai sebuah kawasan budaya terdiri dari 12 paviliun dan serangkaian halaman terbuka. Museum seluas sekitar 60.000 meter persegi ini menyatukan paviliun-paviliun tersebut di bawah satu atap menerus, yang terinspirasi dari karakter atap tradisional arsitektur Tiongkok.
Baca juga, 10 Museum Baru Dunia yang Wajib Dikunjungi di 2026
2. Wildflower Studios (New York, Amerika Serikat)
Wildflower Studios hadir sebagai studio film dan televisi berteknologi tinggi senilai 1 miliar dolar AS di Astoria, Queens, New York. Dirancang oleh BIG dan didukung oleh aktor Robert De Niro, proyek ini resmi dibuka pada Desember 2024 dan sepenuhnya beroperasi pada 2026.
.jpg)
Laurian Ghinitoiu
Wildflower Studios dikenal sebagai studio film vertikal pertama di dunia yang dibangun dari nol. Bangunan setinggi tujuh lantai ini, menafsirkan ulang tipologi studio film konvensional yang biasanya horizontal, menjadi sebuah “desa vertikal” yang sesuai dengan kepadatan lingkungan perkotaan.
3. CopenHill (Kopenhagen, Denmark)
Sementara itu di Kopenhagen, CopenHill atau Amager Bakke menjadi contoh bagaimana infrastruktur kota dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang ikonik. Dibuka pada 2019, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi ini mampu membakar lebih dari 400.000 ton limbah setiap tahun untuk menghasilkan listrik rendah karbon dan sistem pemanas distrik bagi ribuan rumah.

Hufton + Crow
Atap bangunannya dirancang sebagai pusat rekreasi urban, lengkap dengan lintasan ski kering, jalur pendakian, dan dinding panjat tebing. Proyek ini menjelma menjadi landmark kota yang merayakan keberlanjutan, sekaligus membuktikan bahwa bangunan utilitarian pun dapat berkontribusi pada kualitas hidup dan ruang sosial masyarakat.
Sumber foto teaser: BIG Media
-




