Permukaan dinding yang rapi ternyata tidak hanya bergantung pada cat yang dipilih, melainkan juga pada tahapan pengerjaan sebelum proses pengecatan dimulai. Di tahap inilah plamir dan acian sering dianggap sama, padahal keduanya punya fungsi yang berbeda dan menghasilkan kualitas akhir yang juga tidak sama. Memahami perbedaan keduanya membantu menentukan langkah pengerjaan yang tepat agar dinding terlihat halus, kuat, dan siap menampilkan warna cat secara maksimal.


Apa Beda Plamir dengan Acian?


Ascolite


Plamir dan acian memiliki peran berbeda karena dikerjakan pada tahap yang tidak sama dalam proses finishing dinding. Acian berada di urutan awal setelah pasangan bata selesai, menggunakan campuran semen dan pasir halus untuk menguatkan serta membentuk dasar permukaan. Tahap ini berfungsi memastikan dinding kokoh dan siap menerima lapisan berikutnya.

Plamir digunakan setelah acian mengering, terutama ketika permukaan masih terlihat berpori atau memiliki cacat halus. Campurannya biasanya terdiri atas lem dan bahan pengikat yang dirancang untuk merapikan tampilan dinding sebelum dicat. Tujuannya sederhana: membuat permukaan lebih rata agar cat dapat menempel dengan baik dan hasil akhirnya bersih.

Inti perbedaannya terletak pada waktu pemakaian, bahan, dan tujuan kerja masing-masing. Acian memberi kekuatan dan dasar permukaan, sedangkan plamir memperbaiki visual di tahap akhir. Setelah dasar dinding terbentuk dengan baik, plamir menjadi lapisan penentu seberapa halus dan siapnya dinding menerima warna.


Baca juga: Cara Menghitung Kebutuhan Cat Tembok Anti Boros!


Jenis-Jenis Plamir yang Ada di Pasaran 

1. Akrilik


Dwello


Plamir akrilik biasa dipilih karena teksturnya lebih halus dan mudah diratakan, sehingga cocok untuk finishing yang membutuhkan hasil akhir rapi. Bahan dasarnya yang berbasis resin membuat daya rekatnya kuat dan cepat kering. Jenis ini sering dipakai pada dinding interior untuk tampilan yang lebih bersih.


2. Semen putih


Constro Facilitator


Plamir berbahan semen putih cenderung lebih kuat dan tahan lama, sehingga cocok untuk area yang membutuhkan ketahanan ekstra. Jenis plamir ini memiliki tekstur sedikit lebih kasar, tetapi hasilnya memberikan permukaan yang lebih kokoh.


3. Gypsum


Constro Facilitator


Plamir gypsum biasanya dipakai untuk merapikan sambungan pada papan gypsum sekaligus menutup sekrup agar permukaannya rata. Teksturnya lebih halus dan cepat kering, sehingga cocok untuk pekerjaan finishing langit-langit atau partisi gypsum yang butuh hasil rapi dan bersih.


Baca juga: Ini 5 Cara Memperbaiki Tembok Retak dengan Tepat dan Aman!


Cara Membuat Plamir Tembok

1. Siapkan bahan utama


Foto: Margaret Austin Photo / Desain Interior: Cathie Hong Interiors


Pilih bahan seperti semen putih (opsional), kalsium (atau pengeras), lem kayu (PVAc), dan air bersih. Siapkan juga peralatan seperti ember, kape (untuk mengoles), dan amplas halus.


2. Bersihkan tembok yang akan diplamir


Michelle Boudreau Design


Pastikan permukaan dinding bebas dari debu, sisa cat mengelupas, atau kotoran supaya plamir bisa menempel dengan baik. Dinding yang bersih juga membantu hasil akhir terlihat lebih halus dan tidak mudah retak setelah kering.




3. Buat plamir tembok


Foto: Sara Ligorria-Tramp / Desain Interior: Emily Henderson Design


a. Tuang 1,5 kg pengeras ke dalam ember, lalu campur dengan 20 liter air. Aduk hingga campurannya tidak menggumpal.

b. Setelah adonan dasar mulai menyatu, masukkan 2 kg kalsium secara perlahan, kemudian tambahkan 1 kg semen putih agar teksturnya lebih padat dan stabil.

c. Berikutnya, tuangkan lem kayu PVAc untuk memperkuat daya rekat plamir, terutama jika dinding sebelumnya pernah dicat. Aduk kembali sampai tercampur rata.


4. Aplikasikan secara tipis dan merata


Foto: David Duncan Livingston / Desain Interior: Heather Hilliard Design


Gunakan kape untuk mengoles plamir secara tipis dan bertahap. Pengolesan tipis membuat hasil akhirnya lebih rapi dan memudahkan perataan saat proses pengamplasan berlangsung.


5. Biarkan plamir hingga mengering


Foto: Sara Ligorria-Tramp / Desain Interior: Emily Henderson Design


Biarkan lapisan plamir mengering sepenuhnya agar permukaannya mengeras dan tidak mudah terkelupas saat dihaluskan. Waktu pengeringan biasanya lebih lama jika lapisan agak tebal atau ruangan lembap, jadi pastikan benar-benar kering sebelum lanjut ke tahap berikutnya.


6. Mengampelas dinding


Foto: Sara Ligorria-Tramp / Desain Interior: Emily Henderson Design


Setelah plamir benar-benar kering, permukaan dinding perlu diamplas untuk menghilangkan bagian yang masih kasar atau bergelombang. Gunakan amplas halus agar hasilnya lebih rapi dan tidak merusak lapisan plamir yang sudah menempel dengan baik. Tahap ini membantu permukaan menjadi lebih mulus sehingga cat dapat menyebar rata tanpa noda atau tekstur mengganggu.


7. Mengecek hasil akhir plamir


Forbes + Masters


Periksa permukaan dinding dari dekat untuk memastikan tidak ada bagian yang masih bergelombang, berlubang, atau kurang halus. Bila ditemukan area yang belum rata, Anda bisa menambah sedikit plamir dan mengamplas ulang agar hasilnya benar-benar siap dicat.


8. Mengecat dinding


Gloria Kilbourne


Setelah seluruh permukaan dinding halus dan bersih, barulah proses pengecatan bisa dimulai. Gunakan cat dasar terlebih dahulu agar warna utama lebih menempel dan tidak mudah pudar, lalu lanjutkan dengan cat finishing sesuai tampilan yang diinginkan.


Sumber foto header: Aplus Pacific