Sebuah rumah kosong di Stuttgart, Jerman, berubah menjadi karya seni penuh warna lewat proyek “A Kid Could Do It”karya seniman Prancis The Wa. Alih-alih membuat mural dengan komposisi yang presisi, The Wa justru menggunakan cara menggambar yang bebas dan spontan seperti seorang anak-anak.






karya ini dibuat untuk pfffestival di stuttgart-stammheim. seluruh bagian bangunan di aspergerstraße 3 dimanfaatkan sebagai kanvas, mulai dari fasad, atap, hingga jendela. garis-garis besar, bentuk sederhana, dan warna-warna cerah membuat bangunan tersebut terlihat seperti gambar anak-anak dalam skala raksasa.


rumah kosong jadi kanvas raksasa

dalam proyek ini, the wa tidak hanya menempatkan lukisan pada satu sisi bangunan. bentuk arsitektur rumah justru menjadi bagian dari karya. atap miring, jendela, dan permukaan fasad diolah menjadi elemen visual yang menyatu dengan gambar.



pendekatan tersebut membuat rumah yang sebelumnya kosong terasa seperti objek tiga dimensi dari sebuah buku gambar. detail-detail bangunan pun sengaja dibuat menonjol sehingga menghasilkan tampilan yang playful dan tidak biasa.


terinspirasi dari cara anak menggambar

“a kid could do it” menggunakan satu gagasan sederhana, yaitu mengikuti logika kreatif anak yang belum terikat aturan mengenai komposisi, proporsi, maupun teknik menggambar.



karena itu, bentuk dalam mural dibuat terasa spontan dan tidak terlalu sempurna. garis yang bebas serta penggunaan warna yang berani justru menjadi karakter utama karya ini. pendekatan tersebut membuat mural terasa lebih ekspresif sekaligus menjauh dari pakem visual mural yang biasanya mengutamakan presisi.




berawal dari proyek bersama sang ibu

proyek ini merupakan bagian dari seri “a kid could do it” yang pertama kali dikembangkan the wa bersama ibunya pada 2021. saat itu, keduanya menggunakan bunker-bunker peninggalan atlantic wall di sepanjang pesisir atlantik sebagai permukaan untuk membuat gambar bergaya kekanak-kanakan.



dari sana, konsep tersebut terus berkembang. jika sebelumnya diterapkan pada struktur bunker, kali ini the wa memperluas pendekatan yang sama ke seluruh bagian sebuah rumah. skala bangunan membuat ide tersebut terasa semakin besar, seolah sebuah gambar anak-anak dipindahkan langsung ke lingkungan kota.


membuat bangunan terlihat lebih playful

melalui karya ini, the wa tidak sekadar memberikan warna baru pada bangunan kosong. ia juga menggunakan bahasa visual yang dekat dengan graffiti untuk mengubah cara orang melihat ruang di sekitarnya.



Bentuk-bentuk sederhana dan komposisi yang sengaja dibuat tidak mengikuti aturan konvensional menciptakan kontras dengan arsitektur bangunan. Hasilnya adalah sebuah mural yang terasa spontan, penuh energi, dan mengajak orang melihat kembali proses menggambar tanpa batasan seperti ketika masih anak-anak.


Sumber foto: @svenweber_photographie