-
Huizhou Vernacular Historic Bridges Micro-Museum yang dirancang oleh LUO Studio berlokasi di dekat Shisanba Bridge di Mazha Town, Huizhou, Tiongkok, dan berdiri di tengah rumpun bambu sebagai bagian dari proyek Nankunshan–Luofushan Rim Pioneer Zone (Huizhou) Architectural Art Project. Merupakan sebuah inisiatif kawasan yang menghadirkan intervensi arsitektur sekaligus titik singgah budaya di sepanjang rute wisata sejauh 218 kilometer, dengan fungsi sebagai ruang pameran sekaligus fasilitas publik kecil yang mendokumentasikan dan menginterpretasikan jembatan vernakular khas wilayah tersebut.
.jpg)
Proyek ini berangkat dari riset lapangan dan penelusuran arsip mengenai konstruksi jembatan tradisional di Huizhou, yang mengidentifikasi dua tipe utama, yaitu baqiao atau jembatan dada angsa serta gaoqiao atau jembatan kaki bangku, di mana baqiao umumnya ditemukan di area dengan selisih ketinggian air dan tepi sungai yang kecil dengan bentuk pilar meruncing dan dek batu saling mengunci, sementara gaoqiao muncul di lokasi dengan tepian lebih tinggi dan bentang sempit dengan struktur batu ramping yang menyerupai kaki bangku serta sambungan mortise-and-tenon.
Jembatan ini menunjukkan teknik pengerjaan batu yang kompleks, sekaligus mengungkap detail arsitektur lain, seperti bukaan berbentuk labu, setengah lingkaran, dan segitiga yang kemudian memengaruhi bahasa desain museum.

.jpg)
Dalam prosesnya, jumlah jembatan bersejarah yang ditemukan ternyata jauh melampaui perkiraan awal dan meski dulunya penting dalam kehidupan sehari-hari serta aktivitas agraris, kini banyak yang tersisih dari sistem infrastruktur modern sehingga tim perancang dari LUO Studio merancang museum mikro ini sebagai ruang untuk merekam sekaligus menampilkan kembali keberadaan jaringan jembatan tersebut.
Sementara seniman grafis berbasis di Guangdong, Liu Qingyuan, turut menyumbangkan karya yang mendokumentasikan jembatan-jembatan hasil survei dan dipresentasikan dalam tema Bridges of the Countryside sebagai inti pameran.
.jpg)
.jpg)
Bangunan ini menggabungkan interpretasi arsitektur dari dua tipologi jembatan tersebut dengan volume beton berbentuk spindle yang merepresentasikan pilar baqiao dan koridor rangka kayu sebagai analogi dek jembatan, yang mengarah ke area duduk dengan pandangan ke jembatan dan lanskap sungai. Sementara dua lantai di dalamnya menampung fasilitas, seperti toilet, area masuk, ruang pamer, galeri utama, hingga kafe dengan akses ke jalur pandang luar yang ditinggikan, di mana jalur ini mengadaptasi prinsip gaoqiao melalui struktur beton bertulang dengan tiang ramping berbentuk trapesium yang menopang lintasan di antara rumpun bambu.
Baca juga: Bandara Lishui Hadir dengan Atap Skulptural dan Harmoni Alam
.jpg)
Jalur tersebut membentuk pengalaman ruang linear yang mengingatkan pada ritme jembatan tradisional dengan papan kayu berjarak lebar untuk menghadirkan permainan cahaya dan bayangan sekaligus menjaga keterhubungan visual dengan lingkungan sekitar.
Sementara bukaan geometris pada dinding beton mengolah ulang bentuk-bentuk khas arsitektur lokal dan bahkan sebuah batu berbentuk labu hasil temuan lapangan turut dipamerkan di galeri lantai dasar, disertai penggunaan ulang elemen konstruksi seperti cetakan baja yang dijadikan saluran drainase serta balok beton sisa yang difungsikan sebagai tempat duduk panjang di tepi air.
.jpg)
.jpg)
Pendekatan desainnya menekankan intervensi minimal pada lanskap bambu dengan menjaga vegetasi dan kondisi tanah asli agar pengunjung dapat bergerak ringan di antara alam sambil mengamati jembatan di sekitarnya, sekaligus terhubung dengan tema kuratorial Dongpo’s Delights yang merujuk pada tulisan Su Dongpo dan citra puitis bambu yang terlihat dari jendela saat hujan, sehingga keseluruhan proyek ini menghadirkan cara baru untuk memahami warisan lokal melalui pengalaman ruang. Proyek ini juga mengajak pengunjung menemukan kembali jembatan-jembatan bersejarah serta keterampilan yang membentuknya.

.jpg)
Sumber foto: Zhu Yumeng, Han Dawang
-




