Fasad baru rancangan Kengo Kuma untuk Saint Maurice Cathedral di Angers, Prancis, akhirnya selesai dibangun, dan upacara pembukaannya digelar pada 9 April lalu. Di depan bangunan gereja batu abad ke-12 tersebut, hadir sebuah portiko monolitik berwarna pucat yang ditempatkan sedikit maju dari portal asli katedral, menciptakan batas ruang yang jelas antara area kota dan interior gereja.


Dari kejauhan, tambahan arsitektur ini terlihat seperti volume persegi panjang rendah dengan deretan lengkungan dalam yang tersusun ritmis. Bukaan-bukaan tersebut mengikuti posisi bagian fasad katedral yang sudah ada, tetapi dengan bentuk geometris yang lebih sederhana dan modern. Struktur ini memanjang di sepanjang fasad tanpa melebihi tinggi bangunan utama, sehingga bagian atas gereja yang penuh ukiran tetap menjadi fokus utama komposisi.




Saat dilihat lebih dekat, lengkungan rancangan Kengo Kuma memperlihatkan detail berupa lapisan rusuk berulang yang semakin masuk ke arah bukaan, membingkai portal gereja tua tersebut. Pengulangan elemen ini menciptakan kedalaman visual sekaligus transisi cahaya yang perlahan dari area luar menuju pintu masuk yang lebih redup, sementara detail pahatan abad pertengahan tampak muncul di sela-sela elemen vertikalnya.




Material yang digunakan berupa beton bertekstur halus dengan campuran agregat dari wilayah Loire. Warnanya dibuat mendekati batu kapur katedral, meski permukaannya lebih rata dan modern. Struktur ini dicetak langsung di lokasi sehingga memberi kesan seperti dipahat dari satu massa utuh, bukan dirakit dari bagian-bagian terpisah.


Proyek ini berfokus pada perlindungan pintu masuk penuh pahatan bersejarah yang jejak warna polikromnya kembali ditemukan saat proses restorasi. Galeri baru ini tidak menutupi portal, melainkan membingkainya, sehingga pahatan bersejarah tersebut tetap terlihat jelas namun terlindungi dari cuaca secara langsung.




Kehadiran ruang transisi ini juga mengubah cara pengunjung memasuki gereja. Langkah terasa melambat ketika melewati portiko dan bergerak dari alun-alun terbuka menuju serangkaian ruang dangkal di bawah lengkungan. Setiap sudut memberikan tampilan relief yang berbeda, menciptakan pengalaman visual yang bertahap dibanding langsung melihatnya secara frontal.




Di bagian dalam, pola geometris lengkungan terus berlanjut hingga ke langit-langit. Rusuk-rusuk tersebut membentuk kubah dangkal yang mengikuti ritme bagian luar. Cahaya masuk dari samping dan menyoroti tekstur permukaan serta lekukan tiap elemen, sementara lampu vertikal tipis di dinding mempertegas kesan tinggi dan hangat pada ruang tersebut.




Proporsi bangunan ini disebut mengambil inspirasi dari sistem geometris arsitektur abad pertengahan yang sejak awal dijadikan referensi oleh Kengo Kuma. Lebar dan jarak antar lengkungan dibuat konsisten agar tercipta ritme terukur yang tetap terhubung dengan logika bangunan gereja asli tanpa meniru ornamen lamanya secara langsung.


Baca juga: Fasad Bentuk Jaket? Museum V&A di London Punya Desain Baru


Struktur baru ini juga dibuat sedikit terpisah dari dinding gereja di Angers agar bagian bersejarah tetap utuh. Karena itu, tambahan arsitektur ini tetap terbaca sebagai karya kontemporer yang berdiri independen, meski tetap selaras secara visual dengan fasad lama.




Proyek di Angers ini kemudian memunculkan diskusi mengenai bagaimana arsitektur modern berinteraksi dengan situs warisan sejarah. Intervensi karya Kengo Kuma tetap menunjukkan identitas zamannya sendiri, namun tetap sensitif terhadap skala, warna material, dan bahasa geometris gereja tersebut. Portiko baru ini kini menjadi latar depan baru bagi Saint Maurice Cathedral, memperluas kehadirannya ke ruang publik sekaligus menghadirkan area terlindung untuk pahatan-pahatan bersejarah di pintu masuknya.





Sumber foto: Guillaume Amat