Alih-alih menghapus jejak masa lalu, Dvira Interiors justru mempertahankan karakter era 1980-an dalam sebuah penthouse tiga lantai di Toronto, Kanada.




Lengkungan arsitektur, material bernuansa bumi, serta inspirasi dari berbagai tempat yang pernah dikunjungi pemilik berpadu menciptakan hunian yang hangat dan penuh karakter.




Dirancang untuk pasangan kreatif berusia 30-an, penthouse ini sebelumnya berada dalam kondisi yang sudah usang. Lokasinya berada di dekat St. Lawrence Market, kawasan bersejarah di Toronto, dengan sejumlah karakter arsitektur khas modernisme akhir 1980-an.


Baca Juga: 25 Tahun Lamitak, Cerita Baru Material di Jia CURATED




Dinding dengan lengkungan halus dan jendela berbentuk setengah lingkaran menjadi bagian dari karakter asli bangunan. Alih-alih menggantinya dengan elemen yang lebih kontemporer, Dvira Ovadia, pendiri sekaligus desainer utama Dvira Interiors, memilih untuk memperkuat fitur tersebut.




Lengkungan kemudian diterjemahkan kembali ke berbagai bagian hunian, mulai dari dinding hingga detail furnitur dan elemen arsitektur. Bentuk yang berulang ini menciptakan bahasa desain yang mengalir sekaligus mempertegas karakter bangunan.




Inspirasi desain juga datang dari perjalanan para pemilik rumah. Nuansa gurun Arizona, lanskap tropis Bali, serta gaya santai California diterjemahkan secara halus melalui pilihan warna, material, dan tekstur.




Kayu oak putih dengan rona madu yang lebih gelap, batu alam travertine, marmer hijau, serta berbagai permukaan bertekstur digunakan untuk menciptakan suasana yang hangat dan berlapis.


Baca Juga: Waspada! 6 Akar Pohon Ini Bisa Berbahaya untuk Hunian Anda


Wallpaper menjadi salah satu elemen yang memberikan karakter berbeda pada setiap ruang. Material ini tidak hanya diaplikasikan pada dinding, tetapi juga pada langit-langit untuk menciptakan suasana yang lebih imersif.




Kamar utama menggunakan wallpaper bertekstur menyerupai kain goni, sementara ruang kerja memanfaatkan wallpaper berbahan cork yang memberikan kedalaman tekstur. Motif botani juga hadir di sejumlah area untuk memperkuat hubungan hunian dengan alam.






Pendekatan tersebut mencapai puncaknya di lantai tiga. Hampir seluruh permukaan ruang keluarga, mulai dari dinding dan langit-langit hingga pintu serta trim, dilapisi limewash berwarna terakota.




Penggunaan warna yang seragam membuat ruang terasa seperti kepompong yang hangat. Ketika cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar, rona terakota berubah mengikuti waktu dan menciptakan atmosfer yang berbeda sepanjang hari.




Baca Juga: Seperti Pixel, 6 Furnitur Ini Terinspirasi Dunia Digital


Hubungan antara interior dan ruang luar juga menjadi bagian penting dalam rancangan. Hampir setiap ruangan memiliki akses menuju balkon atau teras sehingga cahaya alami dapat masuk lebih leluasa sekaligus memperhalus batas antara ruang dalam dan luar.




Pada lantai utama, dapur, ruang makan, dan ruang keluarga terhubung langsung dengan teras. Sementara itu, area lounge dengan void menciptakan hubungan visual antara lantai-lantai di atasnya.




Proses renovasi juga menghadirkan sejumlah tantangan. Infrastruktur apartemen yang sudah ada membuat sistem perpipaan, HVAC, dan ventilasi tidak mudah dipindahkan.


Baca Juga: Desain New York Bertemu Craftsmanship Indonesia di Savyavasa


Di tengah konstruksi, dapur bahkan harus mengalami perubahan desain setelah sistem ventilasi yang direncanakan sebelumnya tidak dapat diterapkan.




Kondisi perpipaan yang tidak terduga di kamar mandi utama juga mengharuskan desainer menambahkan bulkhead. Namun, bagian tersebut kemudian dilembutkan dengan bentuk lengkung sehingga tidak terasa seperti elemen tambahan, melainkan menjadi bagian dari bahasa arsitektur hunian.




Hasil akhirnya merupakan hunian yang memadukan berbagai pengaruh tanpa terikat pada satu gaya tertentu. Kehangatan interior Mediterania, lanskap tropis, serta karakter arsitektur modernisme akhir berpadu dengan warna, pola, dan tekstur yang kaya.