Studio arsitektur PCA-Stream menghadirkan La Source Vive, aula konser baru di Évian, Prancis.




Berkapasitas 490 penonton, bangunan ini dirancang dengan fokus pada kualitas akustik dan berada di tengah kawasan hutan yang menghadap Danau Jenewa.




La Source Vive menjadi bagian dari kompleks budaya Les Mélèzes dan berdiri berdampingan dengan La Grange au Lac, aula konser berkapasitas 1.000 penonton yang dirancang Patrick Bouchain pada 1993.


Baca Juga: MVRDV Sulap Urban Revivo dengan Fasad yang Berubah Warna




Jika bangunan lama digunakan untuk pertunjukan orkestra, La Source Vive hadir sebagai ruang yang lebih intim untuk latihan dan rekaman.




PCA-Stream merancang bangunan ini seperti sebuah “instrumen musik”. Bentuk ruang, material, hingga detail interior dipertimbangkan untuk menghasilkan kualitas suara yang optimal.




Prosesnya melibatkan pemodelan digital, simulasi, serta pengujian akustik secara langsung selama pembangunan.




Berada di area hutan, La Source Vive dibuat dengan memanfaatkan lahan terbuka yang sudah ada agar tidak banyak mengganggu lingkungan sekitar.




Bersama studio lanskap Coloco, kawasan ini juga ditanami lebih dari 150 pohon dan 200 semak untuk memperkuat hubungan bangunan dengan alam.





Dari luar, aula konser ini tampil mencolok dengan bentuk kubah yang dilapisi ubin tembaga. Material tersebut dipilih karena mampu menangkap cahaya sekaligus berubah secara alami seiring waktu.




Perubahan warna pada tembaga nantinya akan membuat bangunan semakin menyatu dengan lanskap hutan di sekitarnya.


Baca Juga: Ini dia! 6 Jenis Kayu yang Cocok untuk Bahan Bangunan




Di dalamnya, auditorium menggabungkan konsep ruang konser berbentuk shoebox dan vineyard. Tempat duduk bertingkat ditempatkan mengelilingi panggung sehingga penonton dapat berada lebih dekat dengan para musisi.




Dinding auditorium menggunakan plester dengan pola bergelombang yang berfungsi membantu memantulkan dan menyebarkan suara.



Material beton, kayu, plester, dan kulit digunakan untuk menciptakan suasana interior yang sederhana namun tetap hangat. Kursi kulit juga disusun secara asimetris di sekitar panggung.




Sebuah oculus atau bukaan berbentuk lingkaran pada langit-langit dapat memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam ruang. Ketika pertunjukan berlangsung, layar gelap dapat digunakan untuk mengatur pencahayaan sesuai kebutuhan.




Selain ruangan musik, La Source Vive juga dapat digunakan untuk pertunjukan tari, pembacaan teater dan sastra, serta kegiatan rekaman. Tersedia pula ruang untuk lokakarya, pameran, dan kuliah.