-
Arstitek & Fotografer: Ayumi Tsuchiya
Seniman asal Jepang Ayumi Tsuchiya menghadirkan karya seni yang tidak hanya dinikmati dengan mata, tetapi juga melalui sentuhan, gerakan, dan suara. Lewat serangkaian patung kayu interaktif, ia mengajak pengunjung untuk memanjat, bergoyang, memainkan, hingga mendengarkan bunyi yang muncul dari setiap karya.

Bagi Tsuchiya, pengalaman langsung jauh lebih penting daripada sekadar mengamati sebuah objek dari kejauhan. Karya-karyanya berada di antara seni patung, furnitur, alat musik, dan taman bermain.
Baca Juga: Miwa Ito, Seniman Jepang yang Memasak Kaca Panas

Beberapa di antaranya berupa kursi goyang yang dapat dibalik menjadi bangku, kursi berbentuk bunga yang memeluk tubuh penggunanya, hingga jungkat-jungkit yang berubah menjadi alat musik seperti xilofon saat dimainkan bersama.

Ada pula mangkuk kayu berukuran besar yang mengundang pengunjung masuk ke dalamnya untuk merasakan sensasi bergoyang layaknya berada di dunia dongeng.

Menurut Tsuchiya, anak-anak cenderung langsung berinteraksi dengan karya-karyanya tanpa berpikir panjang, sedangkan orang dewasa lebih sering mencari petunjuk atau penjelasan terlebih dahulu.

Melalui pendekatan tersebut, ia berharap orang dewasa dapat kembali merasakan rasa ingin tahu dan spontanitas yang sering dimiliki anak-anak.
Baca Juga: BIG Sulap Kantor Dymak Jadi Katalog Material Skala Penuh

Keinginannya menciptakan karya interaktif berangkat dari pandangan bahwa seni seharusnya mampu membangun hubungan antarmanusia.

Tsuchiya mengaku lebih tertarik pada interaksi yang terjadi di sekitar sebuah karya dibanding hanya memajangnya sebagai objek untuk dilihat. Karena itu, setiap instalasi dirancang agar menjadi ruang yang mendorong komunikasi, permainan, dan kebersamaan.

Musik juga menjadi bagian penting dalam praktik kreatif Tsuchiya. Meski mengaku tidak mahir memainkan alat musik, ia justru menciptakan berbagai instrumen kayu yang mudah dimainkan siapa saja.

Pada karya seperti Do-Re-Mi-Fa-Si-So dan Doremi-fa Sofa, nada tercipta dari gerakan tubuh dan bola-bola kayu yang menggelinding di atas bilah xilofon, sehingga setiap orang dapat menghasilkan melodi sederhana tanpa harus memiliki kemampuan bermusik.
Baca Juga: BIG Hubungkan Seni di Nashville Lewat Pusat Seni Ini

Seluruh proses pembuatan dilakukan sendiri oleh Tsuchiya, mulai dari membuat sketsa, memilih jenis kayu, menyusun gambar teknis, hingga proses pemotongan dan perakitan. Pendekatan ini membuat setiap karya memiliki karakter yang kuat sekaligus menonjolkan keahlian pengerjaan kayu secara tradisional.

Di tengah berkembangnya seni interaktif berbasis layar digital dan sensor elektronik, Tsuchiya memilih tetap mengandalkan mekanisme analog seperti gravitasi, keseimbangan, roda gigi, dan konstruksi kayu.

Baginya, pengalaman fisik saat menyentuh, bergerak, dan mendengar merupakan bagian penting dari karya. Lewat patung-patungnya, ia mengajak pengunjung untuk sejenak melupakan aturan, kembali bermain, dan merasakan dunia dengan rasa penasaran seperti anak-anak.
-




