-
Pertemuan budayawan Indonesia dengan pemimpin Gereja Katolik dunia menjadi momen yang menyita perhatian publik pada pertengahan Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Butet Kartaredjasa menyerahkan sebuah lukisan kaca bertema Jalan Salib kepada Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Yang membuat karya ini begitu istimewa bukan hanya karena diberikan langsung kepada Paus, tetapi juga karena visual yang dihadirkan sangat berbeda dari penggambaran Jalan Salib pada umumnya.

tempo.co
Alih-alih menampilkan sosok Yesus dengan ikonografi tradisional, Butet memilih tokoh Semar dari dunia pewayangan Jawa sebagai representasi Yesus Kristus. Pilihan artistik tersebut menghadirkan dialog menarik antara budaya Nusantara dan tradisi Kristiani yang sarat makna kemanusiaan. Karya ini sekaligus menjadi contoh bagaimana seni dapat menjadi jembatan lintas budaya dan lintas agama melalui bahasa visual yang universal.
Baca juga, 5 Karya Seni Vincent van Gogh Paling Terkenal Mendunia!

Indonesian Embassy Vatican
Momen Penyerahan Lukisan di Vatikan
Butet Kartaredjasa bertemu langsung dengan Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada 17 Juni 2026. Dalam audiensi tersebut, Butet hadir bersama istrinya dengan mengenakan busana adat Jawa berupa beskap, blangkon, dan kain jarik sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Indonesia. Di hadapan Paus Leo XIV, Butet menyerahkan sebuah lukisan kaca yang merupakan bagian dari proyek seni bertema Jalan Salib versi Jawa yang telah ia kerjakan sejak 2024. Momen tersebut kemudian menjadi sorotan karena memperlihatkan perpaduan budaya Jawa dengan simbol-simbol spiritual Kristen dalam sebuah karya seni.
.jpeg)
kemlu.go.id
Lukisan Jalan Salib dengan Tokoh Punakawan
Karya yang dibawa Butet merupakan bagian dari rangkaian lukisan kaca yang mengadaptasi kisah sengsara Yesus menuju penyaliban atau Stations of the Cross. Yang membedakan karya ini adalah penggunaan tokoh Punakawan sebagai elemen utama visualisasi cerita. Dalam konsep tersebut, Yesus digambarkan sebagai Semar, sedangkan Gareng, Petruk, dan Bagong hadir mengiringi perjalanan-Nya. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kisah universal tentang pengorbanan dan kasih dapat diterjemahkan melalui simbol budaya lokal tanpa kehilangan makna spiritualnya.

yogyakarta.kompas.com
Makna Frame Kesembilan yang Diserahkan kepada Paus
Frame yang diserahkan langsung kepada Paus Leo XIV merupakan seri kesembilan dari rangkaian Jalan Salib versi Jawa. Adegan tersebut menggambarkan Yesus yang divisualisasikan sebagai Semar sedang jatuh ketika memikul salib berwarna merah, sementara Gareng, Petruk, dan Bagong tampak berada di sekitarnya. Dalam tradisi Jalan Salib, adegan ini melambangkan beratnya penderitaan yang harus ditanggung sebelum penyaliban. Melalui pendekatan pewayangan Jawa, Butet menghadirkan gambaran penderitaan tersebut dalam bahasa budaya yang lebih dekat dengan masyarakat Nusantara sekaligus mempertahankan pesan universal tentang pengorbanan dan keteguhan hati.

Indonesian Embassy Vatican
Mengapa Butet Memilih Tokoh Semar?
Pemilihan Semar bukanlah keputusan yang muncul tanpa alasan. Dalam tradisi pewayangan Jawa, Semar dikenal sebagai tokoh yang sederhana, rendah hati, bijaksana, dan selalu membela kaum kecil meskipun memiliki kekuatan besar. Sosok ini sering dianggap sebagai simbol kebijaksanaan yang tidak mencari kekuasaan ataupun kemuliaan duniawi. Dengan menggambarkan Yesus sebagai Semar, Butet ingin menunjukkan kesamaan nilai mengenai kerendahan hati, pengabdian, dan kasih kepada sesama yang menjadi ajaran universal di berbagai budaya.

mabur.co
Filosofi Ojo Dumeh dalam Lukisan
Salah satu pesan utama yang ingin disampaikan melalui lukisan tersebut adalah filosofi Jawa ojo dumeh, yang berarti jangan mentang-mentang memiliki kekuasaan, jabatan, atau kelebihan tertentu. Ajaran ini mengingatkan manusia untuk tetap rendah hati serta menggunakan kekuasaan demi kebaikan bersama. Nilai tersebut dianggap selaras dengan keteladanan Yesus yang memilih jalan pengorbanan daripada kemegahan. Melalui simbol Semar, Butet memperlihatkan bahwa nilai kebijaksanaan Jawa memiliki titik temu dengan pesan kasih dan pelayanan yang diajarkan dalam tradisi Kristiani.
.jpg)
idntimes.com
Simbol Dialog Budaya dan Kemanusiaan
Lebih dari sekadar hadiah untuk Paus Leo XIV, lukisan ini menjadi simbol dialog budaya yang mempertemukan tradisi Jawa dengan ikonografi Kristen dalam satu karya seni. Butet menunjukkan bahwa seni memiliki kemampuan untuk melampaui batas bahasa, agama, maupun kebangsaan melalui simbol-simbol yang mudah dipahami secara universal. Kehadiran Punakawan dalam kisah Jalan Salib bukan dimaksudkan untuk mengubah makna religiusnya, melainkan menjadi medium untuk menyampaikan nilai kemanusiaan, welas asih, pengorbanan, dan kerendahan hati kepada masyarakat yang berasal dari latar budaya berbeda.
.jpg)
@berandajogja
Baca juga, 10 Lukisan Indonesia Terkenal yang Mendunia
Lukisan Semar karya Butet Kartaredjasa yang diserahkan kepada Paus Leo XIV menjadi salah satu contoh menarik bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara budaya lokal dan nilai-nilai universal. Dengan menjadikan Semar sebagai representasi Yesus dalam frame kesembilan Jalan Salib, Butet menghadirkan pesan tentang kerendahan hati, kasih, serta filosofi ojo dumeh yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Meskipun sederhana dalam bentuk visualnya, karya tersebut membawa makna yang mendalam dan memperlihatkan bahwa seni mampu menyatukan berbagai tradisi melalui bahasa kemanusiaan yang melampaui sekat agama maupun budaya.
-




