Di Desa Haotang, Provinsi Henan, Tiongkok, Primary Architects menyelesaikan Carpenter’s Home, sebuah bengkel kayu sekaligus ruang belajar komunitas yang berakar pada upaya menghidupkan kembali tradisi kerajinan lokal. Proyek seluas 405 meter persegi ini dibuat sebagai bagian dari program “Eight Traditional Crafts Revival Program” di desa tersebut dan bertujuan mengaktifkan kembali pertukangan kayu sebagai profesi yang hidup sekaligus praktik budaya bersama.



Bangunan ini berdiri di pintu masuk permukiman desa, menggantikan bengkel kayu lama milik tukang kayu lokal bernama Zhang. Para arsitek membayangkan proyek ini sebagai ruang aktif untuk bekerja dan bertukar pengalaman, di mana aktivitas pertukangan tradisional, lokakarya sekolah, acara minum teh, hingga rutinitas sehari-hari berlangsung bersamaan di bawah atap kayu besar yang melengkung.





Tim dari Primary Architects merancang atap bangunan sebagai perpanjangan dari lanskap pegunungan di sekitarnya sehingga arsitekturnya terasa menyatu dengan topografi. 12 balok kayu laminasi melengkung disusun menurun dari timur ke barat mengikuti kemiringan lahan dan membantu menjembatani perbedaan elevasi antara jalan desa dan klinik kesehatan di sebelahnya. Garis atap bergelombang itu dibuat menyerupai perbukitan sekitar dan menciptakan hubungan spiritual dengan pegunungan di kejauhan. Mereka menjelaskan bahwa bentuk bangunannya memang berbeda, tetapi tetap memiliki jiwa yang terhubung dengan alam sekitar.





Deretan skylight melengkung dipotong pada permukaan atap kayu seperti celah cahaya sempit di antara lembah sehingga cahaya alami bisa masuk ke dalam ruangan. Setelah melalui simulasi pencahayaan matahari, skylight tersebut memungkinkan bengkel beroperasi hampir sepenuhnya dengan pencahayaan alami di siang hari. Cahaya yang masuk tersebar lembut ke seluruh permukaan ruang dan menciptakan suasana hangat yang mendukung aktivitas kerajinan dengan fokus tinggi.




Struktur bangunan menggunakan kombinasi kayu laminasi dan sambungan baja dalam sistem hibrida yang mampu membentang hingga 26 meter tanpa terlalu banyak tiang penyangga di bagian interior. Bentuk atap berkontur ganda dimodelkan secara digital dan dikontrol secara parametrik sebelum diprefabrikasi di luar lokasi lalu dirakit menggunakan sistem konstruksi modular.




Baca juga: Pavilion di Beijing Hadir dengan Bentuk Cangkang yang Unik!


Area dalam bangunan dibuat terbuka agar dapat menampung lokakarya penelitian dan aktivitas pendidikan untuk dua kelas sekolah sekaligus. Meja-meja kerja kayu fleksibel digunakan untuk mengajarkan teknik sambungan tradisional mortise-and-tenon sekaligus eksperimen kayu modern. Di sepanjang dinding, berbagai alat pertukangan tradisional seperti hand plane, alat tinta penanda, hingga potongan kayu dipajang berdampingan dengan teknologi kayu rekayasa modern untuk menunjukkan kesinambungan antara keterampilan tradisional dan metode konstruksi masa kini.





Kembalinya tukang kayu Zhang ke bengkelnya menjadi inti emosional dari proyek ini. Suara serutan kayu, proses pengukuran, dan garis tinta kembali memenuhi ruang kerja tersebut, sementara anak-anak berkumpul di sekitar meja untuk mempelajari teknik sambungan kayu dan memahami proses material secara langsung.




Lantai dasar bangunan tetap mempertahankan area khusus untuk produksi pertukangan tradisional, tetapi juga membuka sebagian ruang bagi warga dan pengunjung melalui pameran, lokakarya, serta program edukasi. Di lantai atas terdapat ruang teh yang berfungsi sebagai tempat berkumpul publik sekaligus ruang tunggu orang tua saat kegiatan sekolah berlangsung. Proyek ini sengaja tidak memisahkan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, melainkan menyatukan aktivitas bekerja, belajar, menjamu tamu, dan interaksi komunitas di bawah satu atap.


Bagi Primary Architects, Carpenter’s Home menawarkan model alternatif untuk revitalisasi desa. Alih-alih hanya mempertahankan nostalgia masa lalu, proyek ini menghadirkan bahasa arsitektur yang lebih visioner dengan tujuan menghubungkan kembali kerajinan tradisional dan kehidupan pedesaan modern.





Sumber foto: DONG Image