Kalau kita bicara luxury hotel group kelas dunia, kategori ini biasanya diisi oleh brand yang tidak hanya menawarkan layanan dengan standar sangat tinggi, tetapi juga memiliki kekuatan desain yang kuat serta pengalaman yang benar-benar dikurasi. Hotel di level ini bukan sekadar tempat menginap, melainkan ruang yang dirancang untuk menghadirkan cerita, suasana, dan identitas yang khas.


Rosewood São Paulo



Jika dilihat dari perspektif desain, brand seperti Aman, Rosewood, dan Bvlgari menonjol karena tidak hanya menjual layanan, tetapi juga narasi ruang yang kuat. Mereka menunjukkan bahwa hotel luxury hari ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan tentang bagaimana arsitektur, interior, dan lanskap bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman yang utuh.


Four Seasons Hotel Philadelphia design by Norman Foster


Di titik ini, nama arsitek bukan lagi sekadar kredit, melainkan bagian dari daya tarik utama, sebuah tanda bahwa desain telah menjadi bahasa baru dalam mendefinisikan kemewahan. Berikut kurasi CASA Indonesia delapan kolaborasi arsitek dan luxury hotel yang miliki karakter kuat dan menarik untuk dikulik.


Baca juga, Bisa Jadi Referensi Liburan, Inilah Top 10 Hotel 2025


1. Kerry Hill X Aman Tokyo

Aman dikenal sebagai definisi ultra-luxury yang sesungguhnya dan contoh paling kuat dari brand yang menjadikan arsitektur sebagai inti pengalaman. Jumlah propertinya terbatas, tetapi setiap lokasi dirancang dengan sangat mendalam, mengutamakan privasi, ketenangan, dan koneksi dengan alam.


Aman Tokyo


Aman Tokyo dibuka 2014 yang didesain oleh arsitek Australia yaitu Kerry Hill. Properti ini memadukan estetika tradisional Jepang (seperti kayu kamper dan kertas washi) dengan desain kontemporer. Mengangkat konsep yang mengakar pada karakteristik ruang dan material rumah tradisional Jepang dengan ciptakan sanctuary di pusat kota yang sibuk. Aman Tokyo adalah salah satu dari sembilan proyek yang dirancang oleh Kerry Hill untuk Aman Resorts, menjadikannya pencapaian besar dalam kariernya sebelum ia wafat.


Aman Tokyo


2. ACPV Architects X Bvlgari 

Brand ini lahir dari kolaborasi fashion & hospitality, sehingga menghasilkan hotel dengan identitas glamor dan elegan khas Italia. Hampir semua properti dirancang oleh satu firma, menjadikan Bvlgari sangat konsisten secara visual, yaitu Antonio Citterio & Patricia Viel (ACPV Architects). Desain firma asal Milan ini dikenal dengan perhatiannya yang detail, menyerupai presisi perhiasan Bvlgari, dan pendekatan yang berakar pada budaya lokal tempat hotel tersebut berada.


Bvlgari Resort Bali


- Bvlgari Hotel Milan (2004): Properti pertama yang menandai masuknya Bvlgari ke industri perhotelan, dirancang dengan gaya klasik yang elegan.

- Bvlgari Resort Bali (2006): Menggabungkan budaya Bali dengan desain Italia, menggunakan batu vulkanik, kayu eksotis, dan struktur alang-alang.


Bvlgari Resort Bali


- Bvlgari Hotel Paris (2021): Terletak di Avenue George V, memadukan gaya Renaissance Italia dengan sentuhan kontemporer.

- Bvlgari Hotel Tokyo (2023): Terletak di Tokyo Midtown Yaesu, memadukan material marmer Italia dengan desain kayu elm dan keramik mosaik yang terinspirasi motif tradisional Jepang.


3. Norman Foster  X Four Seasons Philadelphia

Four Seasons adalah global benchmark untuk excellence service dengan pendekatan luxury yang konsisten, serta selalu berhasil menghadirkan desain ikonik pada proyek flagship. Sementara, Norman Foster dikenal sebagai pelopor gaya high-tech, karyanya bercirikan struktur baja, penggunaan kaca yang luas, dan teknologi canggih yang ramping serta ramah lingkungan.


Four Seasons Hotel Philadelphia


Sehingga kolaborasi keduanya di Four Seasons Hotel Philadelphia menampilkan desain modern dengan dinding tirai kaca ramping. Interior yang dirancang khusus oleh Foster, berfokus pada elemen struktural ikonik yang tunjukkan estetika ala teknologi modern. Terletak di Comcast Technology Center yang merupakan gedung tertinggi Philadelphia, hotel ini menempati lantai teratas gedung 60 lantai.


4. I. M. Pei X Four Seasons New York

I.M. Pei mendesain Four Seasons Hotel New York (dibuka 1993) sebagai menara 52 lantai yang elegan di Midtown Manhattan, menampilkan fasad batu kapur Magny Prancis dan gaya art-deco modern. Terletak di 57th Street, gedung ini merupakan hotel tertinggi di Manhattan saat selesai dibangun. Lobi hotel terkenal dengan ruang dramatis yang dipenuhi cahaya alami, dihiasi marmer dan fitur geometris.



Four Seasons Hotel New York


I.M. Pei (1917–2019) adalah arsitek Tionghoa-Amerika legendaris abad ke-20 yang terkenal dengan desain elegan, geometris, dan modern menggunakan kaca, baja, serta beton. Ia memenangkan Pritzker Prize 1983 dan dikenal melalui karya ikonik seperti Piramida Louvre (Paris), Menara Bank of China (Hong Kong), dan National Gallery of Art (Washington).


Baca juga, Heritage & Vertex, Dua Brand Perdana Not A Hotel


5. Jeanne Gang X St. Regis Chicago

Sebagai bagian dari Marriott International, Ritz-Carlton mempertahankan citra classic luxury yang formal dan elegan. Jeanne Gang adalah arsitek Amerika terkemuka dan pendiri Studio Gang, yang berbasis di Chicago, New York, San Francisco, dan Paris. Dikenal karena pendekatan inovatifnya terhadap keberlanjutan, ia mencapai ketenaran global melalui desain ikonik seperti Aqua Tower di Chicago.


St. Regis Chicago


St. Regis Chicago (sebelumnya Vista Tower), yang selesai dibangun pada tahun 2021 oleh Jeanne Gang dari Studio Gang, adalah gedung pencakar langit 101 lantai yang merupakan gedung tertinggi ketiga di Chicago dan gedung tertinggi di dunia yang dirancang oleh seorang wanita. Gedung ini memiliki tiga menara bergelombang yang saling terhubung dengan fasad kaca biru kehijauan, menawarkan 393 hunian mewah dan 191 kamar hotel.




St. Regis Chicago


6. Jean Nouvel & Philippe Starck X Rosewood São Paulo

Rosewood dikenal dengan filosofi “A Sense of Place”, di mana setiap hotel dirancang sangat kontekstual terhadap lokasi.


Rosewood São Paulo


Rosewood São Paulo menonjolkan perpaduan antara kemewahan modern dengan alam dan warisan sejarah lokal Brasil yang dirancang oleh arsitek pemenang Pritzker, Jean Nouvel, dan interior oleh desainer ikonik Philippe Starck. Proyek ini memadukan menara "Vertical Garden" beton berlantai 25 yang modern dengan bangunan bersejarah Maternidade Matarazzo yang direstorasi.


Rosewood São Paulo


- Arsitektur oleh Jean Nouvel): Menara Mata Atlantica dirancang dengan terasering bertingkat yang menampung taman vertikal, balkon pribadi, 114 kamar tamu, dan 100 suite.


Rosewood São Paulo


- Interior oleh Philip Starck: Desain interior dengan sentuhan "modernisme Brasil", menggunakan bahan lokal seperti kayu dan marmer, serta berkolaborasi dengan 57 seniman/perajin lokal.


Baca juga, 16 Desain Hotel Baru Terbaik di Asia 2026


7. André Fu X The Upper House Hong Kong

André Fu mendesain The Upper House di Hong Kong yang dibuka 2009 sebagai hunian modern-oriental yang intim dan tenang, berbeda dengan hotel tradisional. Fokus desainnya adalah relaxed luxury menggunakan bahan alami seperti bambu, batu kapur, dan panel berpernis. Hotel ini memiliki 117 kamar, termasuk 21 suite dan penthouse dengan pemandangan kota.


The Upper House Hong Kong


Suasana hotel ini menjadi seperti rumah pribadi yang menenangkan, berlawanan dengan lobi hotel konvensional yang megah. André Fu adalah arsitek dan desainer interior ternama yang berbasis di Hong Kong, yang menggabungkan prinsip-prinsip Eropa dengan seni Asia.


8. Kengo Kuma X Banyan Tree Higashiyama Kyoto

Dirancang oleh Kengo Kuma and Associates, Banyan Tree Higashiyama Kyoto adalah tempat peristirahatan mewah yang dirancang sebagai "sanctuary" atau tempat perlindungan yang menyatu dengan hutan bambu di Higashiyama. Hotel ini menonjolkan estetika arsitektur kayu yang terjalin dengan pemandangan alam, menampilkan panggung Noh, dan menjadi hotel pertama di kota ini yang memiliki sumber air panas alami (onsen).


Banyan Tree Higashiyama Kyoto


Banyan Tree Hotels & Resorts menawarkan pengalaman mewah, ramah lingkungan, dan berfokus pada kesehatan, dengan vila-vila yang memiliki kolam renang pribadi, spa pemenang penghargaan, dan tempat makan yang unik, seringkali berlokasi di hutan hujan tropis atau lingkungan perkotaan. Didirikan pada tahun 1994, merek ini (bagian dari Banyan Group) menekankan keberlanjutan, budaya lokal, dan romantisme.



Banyan Tree Higashiyama Kyoto


Sementara, Kengo Kuma adalah seorang arsitek Jepang terkenal yang dikenal karena menggabungkan teknik tradisional Jepang dengan material dan teknologi modern. Karyanya memprioritaskan keberlanjutan, material alami (terutama kayu), dan harmoni dengan lingkungan sekitarnya. Ia adalah pendukung utama arsitektur "lemah" atau "kalah", yang berupaya mengintegrasikan bangunan ke dalam lanskap daripada mendominasinya.  


Sumber foto teaser: Aman Tokyo