Arsitektur masjid hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang bentuk kubah atau menara sebagai simbol semata. Di berbagai belahan dunia, para arsitek mulai menafsirkan ulang ruang ibadah sebagai pengalaman spiritual yang lebih kontekstual dengan merespons lingkungan, budaya lokal, hingga kebutuhan sosial komunitas yang menggunakannya. Masjid berkembang menjadi ruang hidup bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga belajar, berkumpul, sekaligus ruang refleksi yang menyatu dengan keseharian masyarakat.


Masjid Nurul Yaqin desain oleh Dave Orlando, Fandy Gunawan / Daniel Dian Kristanto 


Pendekatan desain kontemporer juga menghadirkan cara baru dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam arsitektur. Tidak lagi bergantung pada ornamen dekoratif, banyak masjid modern justru mengekspresikan spiritualitas melalui cahaya alami, sirkulasi udara, material jujur, serta komposisi ruang yang membangun ketenangan. Bentuk geometris, permainan struktur, hingga hubungan bangunan dengan lanskap menjadi medium untuk menghadirkan rasa sakral secara subtil namun kuat.


Zebun Nessa Mosque desain oleh Studio Morphogenesis / Asif Salman


Bagi para design enthusiast, perkembangan ini menunjukkan bagaimana arsitektur religius terus berevolusi mengikuti zaman tanpa kehilangan esensi utamanya. Lima masjid berikut memperlihatkan bagaimana desain mampu menjembatani spiritualitas, komunitas, dan inovasi arsitektur ini menghadirkan pengalaman ibadah yang tidak hanya khusyuk, tetapi juga bermakna secara ruang dan emosional.


Bab Al Salam Mosque desain oleh Altqadum / Firas Al Raisi


Baca juga, Suasana Cozy, Ibadah Khusyuk! Ubah Rumah Saat Ramadan


1. Masjid Jami At-Taqwa

Lokasi: Cibinong, Bogor, Indonesia

Desain oleh Ismail Solehudin Architecture


Masjid Jami At-Taqwa Cibinong - Ismail Solehudin Architecture / Lu’Luil Ma’nun


Berangkat dari makna filosofis sujud, merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali tentang kedekatan manusia dengan Tuhan saat bersujud. Gagasan abstrak ini kemudian menjadi dasar pembentukan arsitektur bangunan. Arsitek tidak hanya menerjemahkan masjid sebagai tempat ibadah secara fisik, tetapi sebagai pengalaman spiritual yang dianalogikan sebagai proses “melipat luasnya semesta”. 




Masjid ini berada di kawasan jalan utama Cibinong yang cukup padat, sehingga desain turut mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar. Kehadiran arkade dan buffer vegetasi berfungsi sebagai peredam kebisingan sekaligus penyaring debu sebelum jamaah memasuki ruang salat. Sistem ventilasi alami diterapkan melalui penggunaan bata ekspos berperforasi yang memungkinkan sirkulasi udara berlangsung tanpa ketergantungan pada pendingin mekanis.



Design highlight-nya terletak pada ekspresi bentuk lipatan yang diterapkan secara konsisten pada atap, dinding, hingga menara. Geometri berlipat tersebut menghasilkan pengalaman ruang yang dinamis dengan permainan cahaya alami yang dramatis, sekaligus menjadi metafora visual tentang kedekatan spiritual dan rasa kebersamaan komunitas di dalamnya.





2. Masjid Nurul Yaqin

Lokasi: Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia

Desain oleh Dave Orlando dan Fandy Gunawan


Masjid Nurul Yaqin desain oleh Dave Orlando, Fandy Gunawan / Daniel Dian Kristanto 


Masjid Nurul Yaqin memiliki nilai emosional yang kuat karena dibangun sebagai simbol kebangkitan masyarakat Palu setelah bencana gempa dan tsunami tahun 2018. Proyek ini juga mendapat pengakuan internasional dengan terpilih sebagai salah satu dari 19 karya dunia dalam shortlist Aga Khan Award for Architecture 2025, penghargaan arsitektur bergengsi yang menilai dampak sosial dan budaya sebuah bangunan bagi komunitas Muslim.


Baca juga, Masjid di Palu, Sulawesi Masuk Shortlist Aga Khan Award 2025




Bangunan dikelilingi oleh 30 kolom struktur yang menopang massa utama, sementara ventilasi udara di bagian atas dibuat dari panel stainless steel berlaser-cut berisi 99 Asmaul Husna. Elemen ini memungkinkan udara mengalir secara alami tanpa kebutuhan jendela sekaligus membuat bangunan lebih efisien dalam perawatan. Area kolam dangkal di sekeliling masjid juga dirancang fleksibel karena dapat dikeringkan dan difungsikan sebagai ruang salat tambahan saat diperlukan.




Keunikan desain paling menonjol adalah kesan bangunan yang tampak melayang di atas air. Celah pada kaki bangunan dan penggunaan lantai teraso biru menciptakan ilusi visual bahwa ruang interior tersambung langsung dengan laut Teluk Palu. Cahaya yang masuk melalui celah sempit di salah satu sisi bangunan juga membentuk ruang simbolik yang menandai posisi mihrab secara subtil.








3. Zebun Nessa Mosque

Lokasi: Dhaka, Bangladesh 



Desain oleh Studio Morphogenesis



Zebun Nessa Mosque desain oleh Studio Morphogenesis / Asif Salman


Zebun Nessa Mosque dirancang sebagai ruang spiritual bagi komunitas pekerja di kawasan industri Dhaka yang berkembang pesat. Fakta menariknya, masjid ini secara khusus memberikan perhatian pada pekerja perempuan dengan menghadirkan area ibadah dan ruang komunal tersendiri, menjadikannya contoh pendekatan inklusif dalam arsitektur religius kontemporer.




Bangunan berdiri di atas tapak berkontur miring di tepi air dan menggunakan metode konstruksi lokal dig and mound, yaitu meninggikan bangunan untuk mengantisipasi banjir muson yang sering terjadi di Bangladesh. Material utama berupa beton berwarna dusty pink dipilih untuk meredam karakter keras lingkungan industri sekaligus mereferensikan warna arsitektur Mughal dan Indo-Saracenic bersejarah.




Sorotan utama desain terletak pada konsep breathing pavilion. Dinding beton tebal dipenuhi perforasi kecil yang memungkinkan cahaya dan udara masuk secara lembut, menghasilkan efek pencahayaan menyerupai pola “jali” pada masjid-masjid Islam klasik. Ruang salat semi-terbuka, kubah tipis tanpa kolom tengah, serta hubungan visual langsung dengan perairan menciptakan suasana ibadah yang tenang dan kontemplatif, selaras dengan iklim tropis setempat.



4. Al-Mujadilah Centre and Mosque for Women

Lokasi: Doha, Qatar

Desain oleh Diller Scofidio + Renfro



Al-Mujadilah Centre and Mosque for Women desain oleh Diller Scofidio + Renfro / Iwan Baan


Al-Mujadilah Centre and Mosque for Women menjadi tonggak penting dalam arsitektur Islam kontemporer karena merupakan masjid modern pertama di dunia yang secara khusus dirancang untuk perempuan. Proyek seluas sekitar 4.600 meter persegi ini menggabungkan fungsi ibadah, pendidikan, dan aktivitas sosial dalam satu kesatuan ruang.



Bangunan mampu menampung hingga 750 jamaah, dengan ruang salat yang diputar 17 derajat untuk menghadap langsung ke arah Mekkah. Atap bangunan menjadi elemen teknis sekaligus arsitektural utama, dilengkapi sekitar 5.000 lubang cahaya yang menghadirkan pencahayaan difus sambil meminimalkan panas matahari gurun Doha.




Highlight desainnya terletak pada bentuk atap bergelombang menyerupai kain yang membentang. Elemen ini secara spasial menyatukan ruang salat monumental dengan area edukasi yang lebih intim. Mihrab ditafsirkan ulang sebagai bidang dinding bergelombang yang diterangi skylight, menghadirkan pendekatan abstrak khas seni dan arsitektur Islam dalam merepresentasikan dimensi spiritual.


Baca juga, Coba 7 Ide Ngabuburit Ini untuk Ramadan Lebih Menyenangkan!


5. Bab Al Salam Mosque

Lokasi: Muscat, Oman 

Desain oleh Altqadum


Bab Al Salam Mosque desain oleh Altqadum / Firas Al Raisi


Bab Al Salam Mosque dirancang sebagai landmark kontemporer di Muscat dengan pendekatan arsitektur yang menekankan pengalaman spiritual sejak pertama kali bangunan terlihat dari kejauhan. Perjalanan jamaah dimulai dari visual menara berbentuk kerucut, dilanjutkan melalui taman dan elemen air, sebelum akhirnya mencapai ruang salat utama yang tenang.




Masjid ini terdiri dari lima volume geometris utama yang masing-masing menampung fungsi berbeda, termasuk ruang salat pria dan wanita serta area wudu. Bentuk ruang salat utama dibuat melingkar, bukan hanya sebagai ekspresi desain tetapi juga untuk meningkatkan kualitas akustik alami sehingga suara imam dapat terdengar merata tanpa penggunaan energi listrik berlebih.



Keunggulan desain terletak pada kesederhanaan ruang yang disengaja tanpa ornamen dekoratif maupun kaligrafi berlebihan. Pendekatan ini bertujuan menjaga ketenangan visual agar jamaah dapat beribadah tanpa distraksi. Studi arah angin lokal juga diterapkan untuk memastikan aliran udara alami yang konstan, menciptakan ruang ibadah yang nyaman sekaligus efisien secara lingkungan.




Sumber foto teaser: Lu’Luil Ma’nun