-
Sumber Foto: Juliet Murphy
Hunian dengan tampilan unik kembali hadir di London. Cloud House, karya arsitek Peter Morris, memperlihatkan bagaimana warna dan bentuk arsitektur bisa menghadirkan suasana yang berbeda di tengah kawasan perkotaan.

Fasad berwarna pink dengan deretan lengkungan menyerupai awan membuat rumah ini terlihat seperti bangunan dari negeri dongeng.

Baca Juga: Sentuhan Kantor 1960-an ala Fabio Fantolino di Bar Turin
Berlokasi di Gospel Oak, London, Cloud House dirancang oleh Peter Morris untuk dirinya sendiri bersama sang pasangan, Emily Kennedy. Menariknya, proyek ini juga mencakup rumah kedua milik tetangga mereka yang memiliki ketertarikan serupa terhadap desain penuh warna.

Morris ingin menghadirkan bangunan yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga bisa memberikan sedikit kebahagiaan bagi orang-orang yang melewatinya. Ia pun menggunakan pendekatan arsitektur postmodern yang lebih ekspresif melalui permainan warna, pola, dan bentuk.

Ide desain Cloud House berawal dari perjalanan bulan madu Morris dan Kennedy ke Miami. Keduanya tertarik dengan karakter arsitektur art deco di kota tersebut, terutama bentuk lengkungan yang khas serta kombinasi warna pink dan turquoise.

Inspirasi ini kemudian diterapkan pada tampilan Cloud House. Fasadnya menggunakan warna pink marshmallow yang dipadukan dengan bentuk lengkungan dekoratif. Sementara itu, detail turquoise memberikan kontras yang membuat bangunan terlihat lebih hidup.

Baca Juga: Bukan Sekadar Restoran, SOBO Paris Juga Jadi Ruang Musik
Selain Miami, desain rumah ini juga mengambil inspirasi dari bangunan bersejarah di sekitarnya. Morris memperhatikan bentuk melengkung pada sekolah dan gereja yang berada tidak jauh dari lokasi rumah.

Perpaduan inspirasi tersebut membuat Cloud House memiliki karakter yang cukup berbeda. Bangunannya terasa playful, tetapi tetap memiliki hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Struktur utama Cloud House menggunakan baja struktural dan blok bangunan. Bagian luarnya kemudian dilapisi elemen lengkungan dekoratif yang terbuat dari polistirena, dilapisi material tahan air, dan diberi tekstur menyerupai lapisan fasad berwarna pink.

Lengkungan-lengkungan tersebut menjadi elemen visual utama yang membentuk karakter Cloud House. Bentuknya yang menyerupai awan juga menjadi alasan di balik pemilihan nama bangunan ini.

Cloud House terdiri dari dua hunian yang memiliki posisi sedikit bergeser. Rumah milik Morris berada di sisi kanan dengan luas sekitar 133 m², sementara rumah tetangganya memiliki luas 165 m².

Meski berada dalam satu proyek, kedua rumah memiliki pendekatan interior yang berbeda. Morris memilih desain yang penuh warna untuk hunian pribadinya, sedangkan rumah tetangganya dibiarkan lebih netral agar bisa disesuaikan dengan selera pemilik.

Bagian dalam rumah Morris tetap mempertahankan karakter ekspresif seperti tampilan luarnya. Salah satu detail yang menarik adalah lantai epoxy berwarna turquoise yang memberikan kesan cerah pada interior.

Dapur menjadi area yang cukup mencuri perhatian dengan penggunaan kabinet bergaris hijau emerald. Kombinasi warna ini membuat ruang terasa lebih dinamis dan memberikan aksen visual yang kuat.

Baca Juga: The Kimchi Hadirkan Suasana Seoul Lewat Desain yang Nyentrik
Kamar mandi juga hadir dengan penggunaan warna yang berani. Interiornya dirancang dengan warna-warna cerah yang membuat setiap ruang memiliki karakter tersendiri.

Hunian Morris memiliki area lantai dasar terbuka yang menggabungkan ruang keluarga, dapur, dan studio arsitek. Sementara itu, dua lantai di atasnya masing-masing dilengkapi kamar tidur dan kamar mandi.

Di bagian paling atas, terdapat teras atap yang dilengkapi bathtub outdoor. Area ini menjadi ruang tambahan untuk menikmati suasana luar rumah.
-




