-
Sumber Foto: Hoshino Resorts
Bangunan penjara biasanya identik dengan dinding tebal, lorong panjang, dan ruang tahanan yang sempit. Namun, di Nara, Jepang, bangunan bersejarah yang berdiri sejak 1908 ini punya cerita baru. Bekas penjara tersebut kini bertransformasi menjadi Hoshinoya Nara Prison, hotel mewah yang memadukan arsitektur bersejarah dengan kenyamanan modern.

Hotel ini memiliki 48 suite yang dirancang dengan tetap mempertahankan karakter asli bangunan. Alih-alih menghapus jejak masa lalunya, desain Hoshinoya Nara Prison justru menjadikan elemen-elemen lama sebagai bagian penting dari pengalaman menginap.

Penjara Nara dibangun pada 1908 oleh Keijiro Yamashita, arsitek pemerintah Jepang pada era Meiji. Bangunan ini menjadi satu-satunya penjara dari kelompok Five Great Prisons of Meiji yang sebagian besar struktur aslinya masih bertahan hingga kini.

Perubahan fungsi bangunan menjadi hotel tidak lantas menghilangkan karakter arsitekturnya. Proyek renovasi yang melibatkan arsitek Rie Azuma dari Azuma Environmental Architectural Research Institute bersama Yasui Architects & Engineers ini tetap mempertahankan dinding bata, lengkungan, serta lorong-lorong panjang yang menjadi ciri khas penjara tersebut.

Salah satu hal menarik dari Hoshinoya Nara Prison terletak pada tata ruangnya. Bangunan ini menggunakan sistem Haviland, yaitu susunan lima sayap yang memancar dari satu pos pengawasan di bagian tengah. Pola tersebut memungkinkan petugas memantau area penjara dari satu titik.

Dalam proses adaptasi, sejumlah sel tahanan digabungkan untuk menciptakan ruang yang lebih luas dan nyaman. Salah satunya adalah tipe The 11-Cell Deluxe, yang memanfaatkan 11 sel lama untuk menghadirkan suite dengan area duduk dan ruang ganti.

Perubahan ini membuat ruang yang sebelumnya dirancang untuk membatasi gerak menjadi tempat beristirahat dengan suasana yang lebih lapang. Meski begitu, jejak fungsi lamanya masih terasa melalui susunan ruang dan detail arsitektur yang dipertahankan.

Interior hotel memperlihatkan perpaduan antara material lama dan elemen baru. Dinding bata ekspos tetap menjadi daya tarik utama, berdampingan dengan panel kayu dan ornamen plafon yang dipulihkan. Kontras ini membuat karakter bangunan bersejarah tetap terasa tanpa mengorbankan kenyamanan.

Menariknya, sejumlah elemen penguatan struktur baja untuk meningkatkan ketahanan terhadap gempa sengaja dibiarkan terlihat. Alih-alih disembunyikan, detail tersebut menjadi bagian dari tampilan interior sekaligus memperlihatkan bagaimana bangunan lama disesuaikan dengan kebutuhan masa kini.

Untuk furnitur, Hoshinoya Nara Prison menghadirkan desain bergaya Eropa yang mengingatkan pada pengaruh Barat di Jepang pada era Meiji. Sentuhan seni kontemporer turut melengkapi ruang, menciptakan suasana yang tidak sepenuhnya terikat pada masa lalu.

Suasana hotel juga dibentuk lewat pencahayaan dan penataan lanskap. Desainer pencahayaan Masanobu Takeishi menggunakan cahaya tidak langsung untuk menghadirkan atmosfer yang lebih lembut. Lampu keramik buatan perajin lokal menjadi aksen yang menambah karakter pada interior.

Sementara itu, arsitek lanskap Hiroki Hasegawa menata area luar dengan jalur yang tertata, area duduk privat, dan tanaman hijau yang memberikan keseimbangan pada komposisi bangunan. Kehadiran elemen alami membuat area bekas penjara ini terasa lebih terbuka dan tenang.

Pengalaman menginap di Hoshinoya Nara Prison juga terhubung dengan Nara Prison Museum melalui jalur khusus. Kehadiran museum ini memungkinkan pengunjung mengenal sejarah bangunan sekaligus melihat bagaimana warisan arsitektur tersebut dipertahankan.

Transformasi ini sejalan dengan konsep Cycle of Heritage dari Hoshino Resorts, yang menempatkan bangunan bersejarah sebagai bagian dari kehidupan masa kini. Dengan fungsi baru sebagai hotel, bekas Penjara Nara tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga memperoleh peran baru tanpa sepenuhnya kehilangan identitasnya.
-




