-
AI makin canggih, tapi apakah arsitek masih dibutuhkan? Simak jawabannya!
Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara arsitek dan desainer menjalankan proses kreatif. Teknologi kini tidak hanya digunakan untuk menghasilkan visual, tetapi juga membantu mengeksplorasi konsep, mengembangkan bentuk, mempercepat iterasi, hingga mendukung berbagai tahapan dalam proses arsitektur.
.jpg)
Namun, semakin canggih kemampuan AI, semakin penting pula peran manusia dalam menentukan arah desain. Kreativitas, intuisi, pemahaman terhadap konteks, hingga kemampuan membaca kebutuhan pengguna tetap menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari proses perancangan.
Baca juga, Penemuan Arsitektur yang Merevolusi Peradaban

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam MM Talk: AI Webinar yang diselenggarakan MM Galleri dengan menghadirkan Tim Fu, Founder & Director Studio Tim Fu dari London. Diskusi turut menghadirkan Peter S. Tjioe Founder & Creative Director MM Galleri Group, Hengky Djaja Director MM Galleri Jakarta & Bali, serta Mario Wibowo Architectural Photographer.

AI sebagai Alat Eksplorasi Desain
Dalam proses arsitektur, pengembangan sebuah desain membutuhkan berbagai tahapan eksplorasi. Mulai dari gagasan awal, bentuk, materialitas, hingga penyempurnaan desain, proses iterasi dapat membutuhkan waktu yang panjang.
.jpg)
Studio Tim Fu yang berbasis di London mengeksplorasi integrasi AI dan pendekatan komputasional dalam praktik arsitektur. AI digunakan untuk membantu mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dalam waktu yang lebih singkat, termasuk dalam pengembangan konsep, bentuk, material, dan desain.

Meski demikian, AI tidak bekerja secara mandiri. Manusia tetap perlu memberikan arahan dan melakukan evaluasi terhadap hasil yang dihasilkan teknologi. Keputusan mengenai konsep, fungsi, konteks, material, hingga kelayakan desain tetap membutuhkan pertimbangan arsitek.

Dalam praktik Studio Tim Fu, AI menjadi bagian dari proses eksplorasi, refinement, dan pengembangan desain. Teknologi membantu mempercepat iterasi, sementara manusia tetap berperan dalam menentukan apakah hasil tersebut sesuai dengan tujuan desain.

Menghubungkan AI dengan Material
Perkembangan AI juga membuka kemungkinan baru ketika dipadukan dengan teknologi seperti robotik, CNC, dan digital fabrication. Kombinasi tersebut memungkinkan arsitek mengeksplorasi bentuk yang lebih kompleks dan ekspresif, termasuk ketika diterapkan pada batu alam.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan desain digital tidak hanya berkaitan dengan visualisasi. Teknologi juga dapat memengaruhi bagaimana sebuah bentuk diterjemahkan ke dalam proses produksi dan aplikasi material.
.jpg)
Bagi Peter S. Tjioe, teknologi memang dapat memperluas kreativitas manusia. AI mampu menghasilkan konsep dan visualisasi dengan cepat, tetapi desain digital dan karya fisik merupakan dua hal yang berbeda. Ketika desain mulai diwujudkan, karakter material, craftsmanship, dan sentuhan manusia menjadi faktor penting.

Peran Manusia Tetap Menjadi Kunci
Perkembangan AI kemudian memunculkan pertanyaan mengenai masa depan profesi arsitek. Jika teknologi semakin mampu menghasilkan berbagai alternatif desain, apakah arsitek masih dibutuhkan?

Mario Wibowo melihat AI dan otomatisasi justru sebagai alat yang dapat membantu pekerjaan arsitektur. Teknologi berpotensi digunakan dalam berbagai tahapan, mulai dari konsep, desain, construction drawing, hingga kemungkinan penerapan robot dalam konstruksi.
.jpg)
Namun, kebutuhan setiap pengguna tidak pernah benar-benar sama. Kebiasaan, preferensi, dan kebutuhan manusia membutuhkan sensitivitas serta pemahaman yang spesifik. AI dapat menawarkan berbagai alternatif, tetapi manusia tetap menentukan desain mana yang paling tepat dan relevan.
.jpg)
Inovasi Material untuk Arsitektur Masa Kini
Sebagai produsen batuan alam yang berdiri sejak 1992, MM Galleri terus mengembangkan pengolahan dan aplikasi material untuk mendukung kebutuhan arsitektur dan desain interior. Bagi MM Galleri, batuan alam bukan sekadar material, tetapi juga bagian dari proses kreatif dalam membentuk karakter sebuah karya.

Pengembangan ultra-thin stone dan Bended Marble Technology menjadi bagian dari eksplorasi tersebut. Inovasi material memberikan lebih banyak kemungkinan bagi arsitek dan desainer interior dalam menerjemahkan konsep, bentuk, serta karakter ruang.

Melalui MM Talk, MM Galleri juga berupaya menjadi ruang berbagi pengetahuan dan kolaborasi bagi arsitek, desainer interior, developer, fotografer arsitektur, hingga praktisi material. Program ini akan terus dikembangkan melalui format offline maupun webinar dengan menghadirkan berbagai topik dan perspektif baru.

Baca juga, Mengungkap Lukisan Semar Karya Butet untuk Paus Leo XIV
Pada akhirnya, masa depan arsitektur bukan tentang memilih antara manusia atau teknologi. AI dapat mempercepat proses dan membuka lebih banyak kemungkinan, sementara manusia tetap memberikan arah, mempertimbangkan fungsi dan konteks, memilih material, serta menghadirkan rasa dan makna dalam sebuah karya.
Sumber: MM Gallery
-




