Desain tidak selalu lahir dari studio profesional atau sketsa teknis yang kompleks. Dalam proyek Chair for Kids di Siem Reap, Kamboja, imajinasi anak-anak justru menjadi titik awal lahirnya karya desain yang fungsional, penuh warna, dan sarat makna. Proyek ini digagas oleh desainer Taekhan Yun melalui pendekatan desain partisipatif, bekerja sama dengan lebih dari 70 siswa dari sebuah sekolah bahasa Inggris setempat.


Chair for Kids


Chair for Kids berangkat dari gagasan sederhana namun kuat: menerjemahkan gambar dan ide anak-anak menjadi kursi sungguhan yang bisa mereka gunakan sendiri. Melalui proses ini, anak-anak tidak hanya menjadi pengguna akhir, tetapi juga terlibat langsung sebagai perancang sejak tahap awal. Pendekatan ini sekaligus memperkenalkan prinsip dasar desain, ergonomi, dan pembuatan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan membumi.


Baca juga, Bertema Luar Angkasa, Sekolah TK Ini Lebih Playful!


Menerjemahkan gambar dan ide anak-anak menjadi kursi sungguhan


Proses dimulai dengan kegiatan menggambar. Anak-anak diminta menggambar kursi atau bangku sesuai imajinasi mereka, tanpa batasan bentuk atau warna. Coretan ini menjadi eksplorasi awal mengenai fungsi, struktur, dan ekspresi visual. Dari gambar tersebut, anak-anak kemudian diajak memahami tubuh mereka sendiri. Mereka bekerja berpasangan untuk mengukur tinggi badan dan dimensi tubuh, lalu mendeskripsikan kursi seperti apa yang ingin mereka buat berdasarkan ukuran tersebut.


Mengukur tinggi badan dan dimensi tubuh


Tahap ini menjadi pengenalan sederhana terhadap konsep ergonomi dan proporsi. Anak-anak belajar bahwa desain bukan hanya soal tampilan, tetapi juga kenyamanan dan kesesuaian dengan tubuh pengguna. Setiap kursi dirancang secara personal, mengikuti ukuran dan kebutuhan masing-masing anak, sehingga tidak ada dua kursi yang benar-benar sama.


Baca juga, 9 Model Kursi Minimalis untuk Ruang Tamu Sempit


Desain kursi sesuai dimensi tubuh anak 




Untuk menerjemahkan gambar dua dimensi menjadi bentuk tiga dimensi, tanah liat dipilih sebagai material prototipe. Material ini mudah diakses, mudah dibentuk, dan memungkinkan anak-anak bereksperimen secara langsung. Setiap anak membuat model kursinya sendiri dari tanah liat, menjadikan imajinasi mereka hadir dalam wujud fisik. Model ini kemudian menjadi acuan bagi Taekhan Yun dalam memproduksi kursi versi akhir.


Tanah liat dipilih sebagai material prototipe


Tahap finishing menjadi momen kolaboratif yang paling ekspresif. Anak-anak kembali dilibatkan untuk mewarnai kursi mereka menggunakan krayon. Warna-warna cerah diaplikasikan secara bebas, mencerminkan karakter dan kepribadian masing-masing. Setelah itu, permukaan kursi disegel dengan semprotan acrylic lacquer dan lapisan vernis untuk melindungi warna sekaligus memastikan daya tahan material.


Mewarnai kursi mereka menggunakan krayon


Hasil akhirnya adalah rangkaian kursi warna-warni yang unik, di mana setiap desain merepresentasikan imajinasi individual anak-anak. Tidak ada standar estetika tunggal. Justru keragaman bentuk dan warna menjadi kekuatan utama proyek ini, memperlihatkan bagaimana desain dapat menjadi alat ekspresi dan pemberdayaan.


Baca juga, 6 Model Kursi Kayu untuk Ruang Tamu Kecil agar Terlihat Luas


Setiap desain merepresentasikan imajinasi individual anak-anak


Chair for Kids menawarkan inspirasi tentang makna desain yang lebih luas. Proyek ini menunjukkan bahwa desain partisipatif mampu menciptakan dampak sosial, memperkuat rasa kepemilikan, dan membuka ruang belajar yang inklusif. Lebih dari sekadar objek furnitur, kursi-kursi ini menjadi bukti bahwa desain yang berangkat dari empati, edukasi, dan kolaborasi dapat menghadirkan perubahan nyata, bahkan melalui coretan sederhana seorang anak.


Sumber foto teaser:  Taekhan Yun