Pierre-Christophe Gam menghadirkan instalasi sinematik berjudul Sanctuary of Dreams, sebuah ruang yang menggabungkan ritual, teknologi, dan penceritaan dalam satu pengalaman.






karya ini dirancang untuk mengeksplorasi hubungan antara mimpi, memori, dan cara manusia membayangkan masa depan. berakar pada filosofi afrika tentang waktu yang bersifat siklus, instalasi ini juga menempatkan memori leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan.


baca juga: di bawah atap besar: hunian yang menafsirkan tradisi lokal




sebagai kuil digital yang menggabungkan berbagai media dalam satu ruang, instalasi ini memadukan realitas virtual, film, musik, dan desain ruang menjadi pengalaman yang partisipatif. pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak membayangkan imajinasi mereka.






strukturnya terinspirasi dari tenda nomaden, menghadirkan suasana tenang dan reflektif. di dalamnya, pengunjung memasuki ruang untuk menyaksikan film berdurasi 44 menit yang ditampilkan melalui tiga layar, dengan visual animasi eksperimental, kolase arsip, serta lanskap suara yang meditatif.


baca juga: 20.000 lampu hiasi bar bernuansa hijau limau di hong kong




setelah itu, pengunjung diajak mengikuti sesi refleksi dan berbagi cerita. gagasan yang muncul kemudian dikumpulkan dalam proyek global mapping of dreams, sebuah inisiatif lintas negara yang merekam mimpi dan harapan kolektif.






dikembangkan dalam ekosistem toguna world dan telah ditampilkan di berbagai forum seperti ars electronica, instalasi ini tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga ruang untuk memaknai mimpi sebagai pengalaman bersama.




Dengan dukungan pencahayaan lembut, aroma ruang, dan audio, pengalaman yang dihadirkan tidak hanya visual, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan sensorik. Ruang ini mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak, merenung, dan membayangkan masa depan secara lebih personal sekaligus kolektif.


Sumber Foto: Toguna World