Biennale Library / La Biennale


Proyek desain yang dicanang tim kurator Asmudjo Jono Irianto bersama co-curator Yacobus Ari Respati terpilih sebagai rancangan yang akan diusung tim Indonesia di Venice Art Biennale 2019 nanti. Tak luput juga kehadiran seniman Handiwirman Saputra dan Syagini Ratna Wulan dalam menghadirkan ruang interaktif melalui perpaduan tiga bagian karya. Tiga karya ini mewakili komentar, kajian, dan kritis atas isu-isu yang terjadi dalam praktik seni rupa kontemporer global.





Tim Dewan Juri bersama tim paviliun Indonesia di Venice Art Biennale 2019 / YDAI


Venice Art Biennale 2019 merupakan salah satu ajang bergengsi dalam komunitas seni global yang akan diadakan pada 11 Mei 2019 hingga 24 November 2019. Untuk mengenal lebih jauh, mari simak 7 fakta menarik dari Venice Art Biennale 2019 dalam artikel di bawah ini.


Baca juga, Temukan Inspirasi Seni Rupa untuk Interior Rumah Anda


1. Venice Art Biennale merupakan pameran seni rupa tertua di dunia.


Venice Art Biennale pertama kali diselenggarakan pada tahun 1895 sehingga menobatkan perhelatan ini sebagai salah satu pameran seni rupa tertua di dunia.

Pameran pertama Venice Biennale pada tahun 1895 di Fondazione La Biennale di Venezia / Historic Archive of Contemporary Arts


2. Tahun 2019 menandakan ke-58 kali diadakannya Venice Art Biennale.


Tomorrow is Another Day oleh Mark Bradford untuk US Paviliun dalam Venice Art Biennale 2017 / Joshua White / Dezeen


3. Venice Art Biennale 2017 dikunjungi lebih dari 600.000 pengunjung.


Tercatat 615.000 pengunjung dari beragam penjuru dunia bertandang ke Venice Art Biennale 2017 menandakan acara ini sebagai perhelatan seni yang ditunggu-tunggu oleh penggiat seni.


Pengunjung Venice Art Biennale 2017 / La Biennale


Baca juga, Terpilih! Utusan Indonesia di Venice Art Biennale 2019


4. Kisah menarik dibalik tema May You Live in Interesting Times.


Pernyataan dengan pesan positif yang menjadi tema Venice Art Biennale ini, dipercaya sebagai kalimat kasar dalam bahasa mandarin oleh para diplomat asal Inggris beratus tahun silam selama lebih dari seratus tahun. Namun, faktanya adalah kalimat tersebut tidak pernah ada dalam pepatah Cina.


Kurator Ralph Rugoff bersama Paolo Baratta selaku President La Biennale Di Venezia / La Biennale / Artnet


Berangkat dari miskonsepsi ini, kurator Ralph Rugoff ingin mengangkat pesan bagaimana salah paham, berita palsu, dan hoax yang begitu cepat beredar di dunia maya zaman ini dapat memicu permasalahan global dalam Venice Art Biennale tahun ini.




5. Venice Biennale terdiri dari empat tipe event yang berbeda.


Venice Art Biennale, Venice Architecture Biennale, Biennale Musica 2018, dan Venice International Film Festival dinaungi oleh institusi yang sama, yaitu La Biennale Di Venezia.


(1) Treasures from the Wreck of the Unbelievable oleh Damien Hirst dalam Venice Art Biennale 2017 / Prudence Cuming Associates, (2) Biennale Musica 2018 / La Biennale, (3) Venice International Film Festival / La Biennale, dan (4) Elevation oleh Andra Matin dalam Venice Architecture Biennale 2018 / Dezeen


6. Venetian Arsenale sebagai lokasi Venice Biennale sejak tahun 1980.


Venice Art Biennale diselenggarakan di Venetian Arsenale yang telah menjadi lokasi acara Venice Biennale sejak tahun 1980.


Venetian Arsenale / La Biennale


Dahulu kala Venetian Arsenale merupakan wilayah diperuntukan sebagai galangan kapal dan gudang penyimpanan senjata.


Venetian Arsenale / La Biennale

Baca juga, 10 Bangunan Legendaris di Dunia yang Mengubah Sejarah

7. Historic Archive of Contemporary Arts sebagai perpustakaan dari Venice Biennale.


Seluruh karya seni dan data terkait Venice Art Biennale akan disimpan dalam Historic Archive of Contemporary Arts yang berlokasi di Venetian Arsenale juga.


Biennale Library / La Biennale


Venice Biennale pertama kali diadakan pada tahun 1895, namun setelah tahun 1927, Historic Archive of Contemporary Arts secara resmi didirikan. Pematung Antonio Maraini merupakan tokoh pelopor yang berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh data, baik berasal dari domestik hingga ke luar negeri sebagai koleksi dari perpustakaan mirik Venice Biennale ini.


Jadi, siapa saja yang tidak sabar menantikan kehadiran Indonesia dalam ajang bergengsi di dunia seni ini?

Nantikan perjalananan tim Tanah Air kita bersama CASA Indonesia.


Dok. La Biennale, YDAI, Artnet, Joshua White, Dezeen, Historic Archive of Contemporary