-
Maxime Aubert
Sulawesi menjadi sorotan dalam sejarah seni manusia setelah peneliti menemukan bukti seni cadas yang berusia setidaknya 67.800 tahun. Temuan tersebut berada di Liang Metanduno, sebuah gua prasejarah di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dan menjadi penemuan penting dalam pembahasan lukisan tertua di dunia.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2026 mengungkap usia minimum hand stencil atau cap tangan di Liang Metanduno. Usianya melampaui seni cadas yang sebelumnya memegang rekor tertua sekaligus memberikan gambaran baru mengenai perkembangan kemampuan simbolis manusia modern.

Maxime Aubert
Gua Metanduno di Desa Liangkabhori sebenarnya telah lama dikenal sebagai situs purbakala dengan berbagai lukisan dinding, termasuk gambar hewan bertanduk. Nama "Metanduno" sendiri berasal dari bahasa Muna yang berkaitan dengan tindakan menyeruduk atau menyerang menggunakan tanduk.
Hand stencil tersebut dibuat dengan menempelkan telapak tangan ke dinding gua, kemudian menyemprotkan pigmen di sekelilingnya. Setelah tangan diangkat, terbentuk siluet telapak dan jari.
Menariknya, salah satu gambar menunjukkan jari yang dibuat lebih panjang dan ramping hingga menyerupai cakar, menandakan adanya proses kreatif dalam pembuatannya.
Usia minimum 67.800 tahun diperoleh melalui penanggalan lapisan kalsit yang terbentuk di atas pigmen. Karena lapisan mineral tersebut terbentuk setelah lukisan dibuat, usianya dapat digunakan untuk menentukan batas minimum keberadaan gambar.
Temuan ini juga penting bagi sejarah migrasi manusia. Liang Metanduno berada di Wallacea, wilayah kepulauan yang menjadi jalur menuju Sahul, daratan purba yang dahulu menghubungkan Australia dan Papua Nugini.


Maxime Aubert
Penelitian tersebut mendukung dugaan bahwa manusia modern telah mencapai Sahul sekitar 65.000 tahun lalu melalui perjalanan laut melewati Wallacea.
Baca juga: 8 Seniman Renaissance yang Karyanya Abadi Sepanjang Masa
Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang melakukan perjalanan tersebut kemungkinan telah membawa tradisi seni dan kemampuan simbolis yang berkembang. Temuan di Liang Metanduno juga membuka peluang ditemukannya seni cadas dengan usia serupa di sepanjang jalur migrasi tersebut.
Lukisan Tertua di Dunia: Liang Metanduno vs Leang Karampuang
Liang Metanduno dan Leang Karampuang sama-sama berada di Sulawesi, tetapi memiliki jenis karya dan usia yang berbeda.
Hand stencil Liang Metanduno berusia minimum 67.800 tahun, sedangkan seni cadas di Leang Karampuang, kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, berusia setidaknya 51.200 tahun.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Dengan selisih sekitar 16.600 tahun, hand stencil Liang Metanduno lebih tua. Namun, kedua temuan ini tidak hanya berbeda dari segi usia.
Liang Metanduno menunjukkan seni berbentuk siluet tangan yang salah satunya dimodifikasi hingga menyerupai cakar. Sementara itu, Leang Karampuang menampilkan beberapa figur mirip manusia yang berinteraksi dengan seekor babi liar dalam satu komposisi.
Lukisan Leang Karampuang menjadi penting karena menunjukkan kemampuan membuat representasi visual yang lebih kompleks.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Penyusunan manusia dan hewan dalam satu adegan membuatnya menjadi bukti penting untuk representational art dan visual storytelling atau penceritaan melalui gambar.
Karena itu, istilah lukisan tertua di dunia perlu dilihat berdasarkan jenis seninya. Liang Metanduno memiliki hand stencil dengan usia minimum 67.800 tahun, sedangkan Leang Karampuang menjadi salah satu bukti tertua seni figuratif yang menggambarkan sebuah adegan.

Maxime Aubert
Kedua situs tersebut menunjukkan bahwa manusia telah menggunakan seni untuk merepresentasikan tubuh, hewan, lingkungan, hingga kemungkinan cerita jauh sebelum munculnya tulisan. Temuan ini juga memperluas pandangan mengenai sejarah seni manusia yang selama ini banyak dikaitkan dengan situs prasejarah di Eropa.
Bagi sejarah manusia, seni cadas memberikan petunjuk mengenai kemampuan Homo sapiens berpikir secara simbolis dan mengolah pengalaman menjadi bentuk visual.
-




