Selama 2 dekade, The Papilion Kemang telah menjadi salah satu bangunan yang lekat dengan perkembangan kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Menandai 20 tahun kehadirannya, pameran “Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang”mengajak pengunjung melihat kembali perjalanan bangunan ini, mulai dari proses perancangan hingga bagaimana arsitekturnya terus berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.




Dirancang pada awal 2000-an oleh d–associates, yang kini dikenal sebagai Yolodi + Maria Architects, The Papilion hadir ketika Kemang tengah mengalami perubahan karakter. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai area hunian perlahan berkembang menjadi salah satu destinasi komersial dan lifestyle di Jakarta. Berada di sudut Jalan Kemang Raya, posisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam membentuk karakter arsitekturnya.


The Papilion dan Transformasi Kemang

The Papilion dirancang untuk terbuka ke berbagai arah daripada memiliki satu sisi yang berfungsi sebagai fasad utama. Metode ini memungkinkan hubungan visual antara ruang di dalam dan lingkungan sekitarnya sekaligus membuat bangunan terasa lebih menyatu dengan aktivitas kota.




Setelah itu, bidang kaca yang dominan menjadi salah satu karakter yang paling mudah dikenali. Karena transparansinya, The Papilion dipanggil "Gedung Kaca", sebutan yang hingga saat ini melekat pada bangunan.

Tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Kemang juga. Lingkungan sekitar Papilion terus berubah selama dua dekade, tetapi bangunan ini tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari daerah tersebut.

Melihat Kembali Proses Perancangan

Pameran “Gedung Kaca” membawa pengunjung kembali ke proses awal kelahiran The Papilion melalui berbagai materi desain. Sketsa, gambar, maket, studi, serta dokumentasi proses perancangan ditampilkan untuk memperlihatkan bagaimana gagasan arsitektur tersebut dibentuk sejak dua dekade lalu.




Materi-materi ini memberikan perspektif berbeda terhadap bangunan yang selama ini lebih banyak dikenal melalui bentuk akhirnya. Di balik fasad kaca dan bentuk bangunannya, terdapat proses eksplorasi yang memperlihatkan bagaimana arsitek merespons lokasi, konteks, serta kebutuhan ruang pada masanya.

Dua Dekade yang Terekam dalam Dokumentasi

Selain arsip proses desain, pameran turut menampilkan foto dan video yang merekam The Papilion pada masa lalu hingga kondisinya hari ini. Dokumentasi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah bangunan tidak berhenti ketika proses konstruksinya selesai.





Seiring waktu, bangunan digunakan, mengalami perubahan, dan membentuk hubungan baru dengan orang-orang serta lingkungan di sekitarnya. Dalam konteks tersebut, perjalanan The Papilion menjadi bagian dari perubahan wajah Kemang selama dua dekade terakhir.

Ketika Seniman Membaca Kembali Arsitektur

Perjalanan The Papilion dalam pameran ini juga dilengkapi dengan respons artistik dari Davy Linggar dan Indra Leonardi. Keduanya menghadirkan karya yang membaca kembali karakter The Papilion melalui pendekatan visual masing-masing.




Cahaya, bidang, gerak, dan tekstur menjadi medium untuk melihat arsitektur dari perspektif yang berbeda. Kehadiran karya seni tersebut memperluas cara pengunjung memahami bangunan, bukan hanya sebagai objek arsitektur, tetapi juga sebagai ruang yang dapat ditafsirkan melalui pengalaman visual dan artistik.

The Papilion dalam Ingatan Urban Kemang

The Papilion masih berdiri di salah satu sudut Jalan Kemang Raya bahkan dua puluh tahun kemudian, dan telah menjadi bagian dari kehidupan di daerah tersebut. Pameran "Gedung Kaca" tidak hanya merayakan usia sebuah bangunan tetapi juga menunjukkan bagaimana arsitektur dapat beradaptasi dengan perkembangan kota.




Pameran ini mengajak pengunjung melihat kembali The Papilion sebagai sebuah perjalanan melalui arsip, dokumentasi, dan karya seni. Baik dari ide awal tahun 2000-an hingga keberadaannya saat ini, "Gedung Kaca" menunjukkan bahwa arsitektur dapat menjadi saksi perubahan dan bagian dari memori urban sebuah kawasan.

Pameran “Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang” terbuka untuk umum pada 29 Agustus–13 September 2026.


Sumber foto: Yolodi+Maria Architects, Davy Linggar, Indra Leonardi