Mengapa sebuah fasad terasa proporsional meskipun tidak memiliki bentuk yang sepenuhnya simetris? Dalam arsitektur, jawabannya dapat berkaitan dengan golden ratio, prinsip proporsi matematis yang menghasilkan perbandingan sekitar 1:1,618. Rasio ini terbentuk ketika suatu garis dibagi menjadi dua bagian sehingga perbandingan bagian yang lebih panjang terhadap bagian yang lebih pendek sama dengan perbandingan keseluruhan garis terhadap bagian yang lebih panjang.

 


Arsitek: @atelier_riri


Dalam praktik arsitektur, golden ratio dapat digunakan sebagai panduan menentukan hubungan dimensi, bukan sekadar angka estetika. Prinsip ini dapat diterapkan pada perbandingan panjang dan lebar bangunan, komposisi fasad, ukuran bukaan, pembagian ruang, hingga elemen interior. Penerapannya pun tidak terbatas pada hunian, tetapi relevan untuk gedung publik, komersial, fasilitas budaya, dan berbagai proyek arsitektur lainnya.

 

Baca juga, Ukuran Sloof Rumah 1 Lantai yang Tepat untuk Hunian Kokoh



cmcmarkets.com


1. Memahami Rumus Golden Ratio dalam Arsitektur

Secara matematis, golden ratio dilambangkan dengan huruf Yunani ? (phi) dan memiliki nilai sekitar 1,618. Rumus dasarnya adalah ? = (1 + ?5) / 2. Dalam penerapannya, jika sebuah bidang memiliki lebar 5 meter, proporsi golden ratio dapat menghasilkan panjang sekitar 8,09 meter. Sebaliknya, bidang dengan panjang 8 meter dapat memiliki lebar sekitar 4,94 meter jika menggunakan perbandingan tersebut.


Angka ini bukan ukuran baku, melainkan rasio yang dapat diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan proyek. Arsitek dapat menggunakannya sebagai design guideline sebelum menyesuaikan dimensi dengan struktur, fungsi, modul material, dan kondisi tapak.

 


learnarchitecture.net


2. Golden Ratio untuk Menentukan Proporsi Fasad

Pada fasad, golden ratio dapat digunakan untuk mengatur hubungan tinggi dan lebar bidang bangunan agar komposisinya lebih seimbang. Misalnya, fasad selebar 10 meter dapat memiliki tinggi sekitar 6,18 meter jika digunakan rasio 1,618 secara horizontal terhadap vertikal. Prinsip yang sama dapat diterapkan secara bertingkat pada elemen yang lebih kecil, seperti bidang jendela terhadap dinding atau pintu terhadap area fasad.


Dengan pendekatan ini, ukuran setiap elemen tidak ditentukan secara terpisah, melainkan memiliki hubungan skala dengan elemen lainnya. Namun, dimensi akhir tetap perlu menyesuaikan kebutuhan struktur, standar ergonomi, pencahayaan, ventilasi, dan modul konstruksi.

 


artandobject.com


3. Mengatur Ukuran dan Posisi Bukaan

Golden ratio juga dapat menjadi acuan untuk menentukan proporsi pintu dan jendela. Sebuah bukaan dengan lebar 1,2 meter, misalnya, secara proporsional dapat memiliki tinggi sekitar 1,94 meter jika menggunakan rasio 1:1,618. Rasio tersebut dapat membantu menciptakan bentuk bukaan yang terasa seimbang terhadap bidang dinding.




Selain ukuran, prinsip proporsi juga dapat digunakan untuk menentukan posisi bukaan dalam suatu bidang fasad. Meski demikian, desain jendela tidak boleh hanya mengejar estetika karena ukuran dan posisinya harus mempertimbangkan orientasi matahari, daylight factor, ventilasi, privasi, serta kebutuhan energi bangunan.

 


goldennumber.net


4. Membagi Ruang dengan Modul Proporsional

Penerapan golden ratio juga dapat dilakukan pada denah dan pembagian ruang. Sebuah ruang berukuran 4 × 6,47 meter, misalnya, mendekati perbandingan 1:1,618. Proporsi semacam ini dapat digunakan sebagai titik awal ketika menentukan dimensi ruang utama, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan furnitur, sirkulasi, dan aktivitas pengguna.


Pada bangunan publik seperti galeri, museum, atau perpustakaan, prinsip proporsi dapat digunakan untuk membangun hubungan antara ruang utama dan ruang pendukung. Meski begitu, dimensi ruang tetap harus memenuhi kebutuhan program, standar keselamatan, aksesibilitas, dan sistem struktur bangunan.

 


hotelbelami-paris.com


5. Menerapkan Golden Ratio hingga Detail Interior

Pada skala yang lebih kecil, prinsip golden ratio dapat digunakan untuk mengatur furnitur, panel dinding, tangga, pola lantai, hingga komposisi dekoratif. Misalnya, sebuah bidang dinding selebar 3 meter dapat dibagi menjadi dua zona dengan pendekatan proporsi sekitar 1,618 untuk menentukan area karya seni, panel dekoratif, atau elemen arsitektural lainnya.


Prinsip ini juga dapat digunakan dalam menentukan hubungan ukuran meja, sofa, karpet, dan area kosong di sekitarnya. Namun, penerapannya perlu dikombinasikan dengan standar ergonomi agar ukuran yang dihasilkan tetap nyaman digunakan, bukan sekadar terlihat proporsional.

 


steveclarkapps.com


Baca juga, Manakah Ukuran Kasur Yang Tepat Untuk Anda? Cek di Sini


Keindahan dalam arsitektur ternyata tidak selalu lahir dari bentuk yang rumit, tetapi juga dari hubungan proporsi yang terasa tepat. Golden ratio menjadi salah satu cara untuk menciptakan keseimbangan dan harmoni, sekaligus memberi ruang bagi arsitek untuk menerjemahkan fungsi, konteks, dan karakter bangunan ke dalam desain yang berkesan.