Sudah setahun lamanya (14 Mei 2016), alm. Han Awal meninggalkan cerita dan karya-karya yang legendaris di dunia. Bertepatan dengan hari ulang tahun mendiang Han Awal, PT Han Awal & Partners Architect mengadakan acara di kantor HAP untuk mengenangnya.




Sekitar 4 tahun lalu, CASA Indonesia berkolaborasi dengan arsitek sekaligus penulis, Alwi Sjaaf untuk berbincang-bincang dengan Han Awal.

Seperti inilah kisah dari tokoh senior yang merupakan peletak pertama fondasi perkembangan desain rancang bangunan dan tata ruang dalam yang dikenal sekarang di Tanah Air.





Han Awal, lahir dengan nama Han Hoo Tjwan, meskipun adalah seorang arsitek yang sangat senior, tidak mau ditokohkan, sangat rendah hati, menganggap bahwa karyanya masih terus dalam proses.

Di dalam pembicaraan selama 3 jam, lulusan dari Technishe Hoogeschool Delft dan Technishe Universitaet Berlin, menceritakan filsafat hidup dan desain, heritage, konservasi, arsitektur dan arsitek.

Pendiri PT Han Awal & Partners Architect ini merupakan contoh teladan seorang pejuang yang tidak pernah mengenal lelah dan mencintai profesi, bangsa dan negaranya.



Alwi Sjaaf (AS): Perjalanan keberhasilan dari seorang Han Awal, kini berlanjut ke generasi kedua, Yori Antar.


Han Awal (HA): Wae Rebo dari Yori Antar mendapat sorotan yang luar biasa. Interest terhadap heritage mungkin agak sama, kami sama-sama memiliki perhatian besar terhadap warisan budaya.

Namun pada umumnya saya lebih ke arah bangunan kolonial, sedangkan Yori dan tim Rumah Asuh lebih ke arah traditional vernacular.





AS: Heritage merupakan pengaruh dari masa studi di Belanda dan Jerman?


HA: Saya menerima beasiswa dari Keuskupan Agung di Malang tahun 1950, dengan syarat setelah lulus harus mengajar di Sekolah Katolik, Dempo.

Pada saat kembali, melihat ijazah saya, Monsigneur Albers, menganjurkan saya untuk menjalankan profesi sebagai arsitek, tanpa boleh melupakan komitmen untuk karya-karya sosial.




Kebetulan waktu itu saya dipanggil oleh Gereja Immanuel.

Meskipun akhirnya Gereja Immanuel ditangani oleh atase kebudayaan dari Kedutaan Belanda, saya mendapat tawaran untuk menangani Gedung Arsip Nasional, yang akan disumbangkan kepada pemerintah Indonesia sebagai hadiah ulang tahun ke-50.

Bekerjasama dengan Budi Lim yang berpengalaman di London dan Cor Passchier, teman saya dari Belanda, proyek ini memperoleh penghargaan UNESCO Award Of Excellence.




Saya sudah terkesima terhadap heritage, jadi walaupun pas-pasan atau cost center bagi biro kami, saya tetap maju dan ini membawa saya pribadi pada satu kesimpulan bahwa heritage itu perlu digali kearifannya.

Banyak pikiran mendalam pada zaman itu sehingga setiap karya itu memiliki ciri khas dan message tersendiri.




Mengenal bangunan itu, akan ada empati, akan mengerti zaman tersebut, sehingga tidak salah langkah dalam merencanakan konservasi.

Pembelajaran ini sangat memperkaya wawasan cara-cara pembangunan, pengertian pertukangan dan keterbatasannya.



AS: Pesan untuk generasi muda ataupun mungkin untuk Pemerintah?


HA: Harus berhati-hati terhadap kawasan dan bangunan heritage, kaidah-kaidah mengenai lingkungan wajib dipertahankan dengan baik.

Bahwa di antara itu ada bangunan modern, diharapkan menyesuaikan dengan irama yang ada.

Selama ini pemikiran dan desain masih agak kebingungan. Dalam Ikatan Arsitek Indonesia itu ada kode etik profesi, dimana pasal-pasal mengenai heritage sudah terimplikasi.






Pemerintah harus berupaya untuk melakukan invetaris, tapi kalau pejabat yang berkuasa tidak ada pengertian akan heritage … ini yang menakutkan.

Seharusnya secara menyeluruh dimulai dari pendidikan dasar, dan setiap kabupaten mempunyai heritage society.

Pejabat serta pengembang jangan tergoda untuk hanya membangun mal dan apartemen – masyarakat harus peduli.

Cobalah berkarya yang baik, mendasar; boleh futuristik namun tidak lupa akan kearifan lokal dan budaya.


AS: Arsitektur dari setiap jaman harus dihargai?


HA: Makanya saya ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA).

Memalukan sekali bahwa tidak ada arsip gambar-gambar bangunan tua, bahkan Gedung Arsip Nasional.




Setelah proyek itu, bersama PDA, kami mulai membuat dokumentasi bangunan tua.

Di dalam konservasi, urutan dari metodologi pembongkaran, pengupasan dan lain-lain ini menjadi persoalan besar.




Jadi kita harus mendokumentasi setiap proses sampai ke detail, kemudian menjelaskan kepada setiap konsultan yang terlibat, termasuk membina kontraktor untuk membuat shopdrawing, agar jelas metode bongkar dan langkah-langkah selanjutnya.



AS: Ada proyek impian?


HA: Saya tidak punya impian yang terlalu banyak. Apa yang diberikan kepada saya, saya anggap pekerjaan rumah saja.

Apa saja saya garap dan tentunya mencoba mempertahankan apa yang telah saya alami dapat dituangkan dalam wujud yang lebih matang.

Saya ingin memperlihatkan salah satu karya yang saya anggap masih bisa bertahan, Guest House di Puspitek Serpong.




Dulu berwarna putih, sekarang dikasih warna-warni sudah ngga karuan. Keinginan saya itu waktu adalah kamar-kamar hotel sederhana yang tidak lurus tapi miring-miring.

Kelelahan karena bekerja sampai larut malam maket tiga lapis sterofoam itu tersenggol dan bergeser tanpa sengaja.

Wah justru menjadi bagus. Jadi di dalam perjalanan profesi saya itu rupanya ada hal-hal yang demikian: kebetulan.




Dalam kursus kaligrafi, diajarkan bahwa bijak itu ada di dalam menulis - kuas itu lebih dahulu dari pemikiran, perasaan mengendalikan atau dikendalikan. It’s a mystery.

Jadi saya merasa desain ini ada semacam gugahan antusiasme yang merupakan misteri. Sampai sekarang tetap misteri, padahal senggolan saja, yang tidak sengaja. 


"Kita mempunyai satu tekad, belajar membuat sesuatu yang apa adanya: kejujuran. It is a very exciting job." - Han Awal


Teks wawancara oleh Alwi Sjaaf
Teks opening oleh Raisa B. Ranti
Foto Profil: Insan Obi, Pengarah: Stella Mailoa
Dokumentasi karya: Dok. Han Awal & Partners Architects, Paskalis Khrisno A., Sefval Mogalana, Miranti M. Lemy, Rumah Asuh