-
Di tengah hiruk-pikuk Kota Merah, tersembunyi sebuah oasis yang menyimpan kisah cinta seorang perancang busana legendaris pada warna, cahaya, dan kerajinan tangan Maroko. Bernama Villa Oasis, rumah pribadi Yves Saint Laurent yang selama puluhan tahun menjadi ruang pelarian sekaligus sumber inspirasi bagi sebagian besar koleksi ikoniknya.

Kisah tempat ini sebenarnya dimulai jauh sebelum Saint Laurent menginjakkan kaki di sana. Pada 1923, pelukis Orientalis asal Prancis, Jacques Majorelle, membeli sebidang tanah di pinggiran Marrakech. Sepanjang dekade 1930-an, ia membangun sebuah rumah di atasnya dan mengecatnya dengan warna biru elektrik yang kelak menjadi identitasnya sendiri, warna yang hingga kini dikenal dunia sebagai "Majorelle Blue". Di sekelilingnya, Majorelle menanam koleksi tumbuhan eksotis yang ia kumpulkan dari berbagai penjuru dunia, menjadikan lahan itu taman botani sekaligus studio pribadinya.

Empat dekade kemudian, giliran Yves Saint Laurent dan pasangan hidupnya, Pierre Bergé, yang jatuh cinta pada kota ini. Keduanya pertama kali mengunjungi Marrakech pada 1966, dan pengalaman itu meninggalkan bekas yang dalam. Rumah pertama mereka di sana, Dar el-Hanch, adalah tempat sederhana di jantung medina yang perlahan berubah menjadi titik temu para seniman dan intelektual. Pada 1974, mereka membeli vila lain bernama Dar Es Saada, sebelum akhirnya pada 1980 menemukan rumah yang benar-benar terasa seperti rumah: Villa Oasis, lengkap dengan taman peninggalan Majorelle yang saat itu justru terancam digusur proyek properti. Keduanya memutuskan membeli seluruh kompleks demi menyelamatkannya.

Proses restorasi Villa Oasis dipercayakan kepada dua nama besar yakni arsitek asal Amerika, Bill Willis, dan desainer interior Prancis, Jacques Grange. Alih-alih menghapus jejak Majorelle, keduanya memilih mempertahankan jiwa asli bangunan sambil memperkaya detailnya. Hasilnya adalah perpaduan estetika Moor dengan sentuhan personal Saint Laurent yang begitu kental dengan sentuhan ukiran kayu, keramik berenamel, kain-kain mewah, karpet Berber, furnitur kayu gelap, hingga karya seni yang mereka kumpulkan dari berbagai perjalanan. Fasad bangunan sendiri menampilkan perpaduan warna terakota merah, biru elektrik khas Majorelle, dan hijau bernuansa Islami menjadi sebuah palet yang kemudian ikut mewarnai banyak koleksi Saint Laurent selama bertahun-tahun.

Bagi Saint Laurent, Villa Oasis bukan sekadar tempat tinggal. Di ruangan-ruangan inilah ia menyketsa rancangan, merancang gelaran fashion show, sekaligus menjamu tokoh-tokoh besar dunia seni dan mode dengan gaya khas Maroko yang mewah namun intim. Ketika Saint Laurent meninggal dunia pada 2008, abunya ditebarkan di Jardin Majorelle, dan sebuah monumen peringatan didirikan di area taman sebagai penanda hubungan mendalam sang perancang dengan tempat ini.

Setelah kepergian Bergé pada 2017, pengelolaan kompleks ini diteruskan oleh Fondation Jardin Majorelle, yang juga membuka Musée Yves Saint Laurent Marrakech tepat di sebelah taman pada tahun yang sama. Kini, kompleks Jardin Majorelle menjadi salah satu destinasi paling ramai di Marrakech, menarik sekitar 800 ribu pengunjung setiap tahunnya. Villa Oasis sendiri, yang dulu hanya bisa dikunjungi lewat tur privat terbatas untuk kelompok kecil, perlahan mulai membuka pintunya lebih luas memperlihatkan pintu-pintu berlukis tangan, taman rimbun, dan ubin bermotif rumit yang dulu hanya bisa disaksikan oleh lingkaran terdekat sang desainer.
Sumber Foto: Miguel Flores-Vianna
-




