-
Pernahkah Anda membayangkan sebuah pameran desain yang lokasinya justru ikut "berbicara" sebagai bagian dari karya itu sendiri? Itulah yang ditawarkan Jia CURATED 2026, yang tahun ini pindah ke tepi Pantai Pengembak, Sanur, Bali, diapit pohon pinus dan mangrove. Lanskap pantai bukan sekadar latar, melainkan bagian aktif dari narasi kuratorial edisi terbesar sepanjang sejarah acara ini. Pantai jadi galeri, pohon pinus jadi backdrop.
Bersama Rudi Winata dan Yang Yang Hartono, Budiman Ong membangun Jia CURATED bukan sekadar pameran desain, tapi sebuah ekosistem untuk Indonesia.
Berlangsung 13 hingga 17 Agustus 2026, Jia CURATED tahun ini mengusung tema Nature Weave, mengeksplorasi relasi antara manusia, desain, dan sistem alam. Lebih dari 250 brand lokal dan internasional ambil bagian, dengan filosofi Gotong Royong sebagai jangkar utama, semangat kolektif yang jadi akar budaya Indonesia sekaligus napas dari seluruh rangkaian acara.
Ini edisi kelima sejak platform ini pertama kali hadir sebagai Jia CURATED Kiosks di tahun 2022, dan sekaligus edisi terbesar sepanjang sejarahnya.
Sejumlah instalasi menarik perhatian CASA. 'The MetalLab' oleh STVMP yang menyulap sisa industri jadi objek koleksi, serta instalasi Lintang Pavilion oleh Studio Hendro Hadinata x Studio Aliri yang dirancang untuk terus "hidup" setelah pameran usai. Begitu juga dengan instalasi 'The Intelligence of Surfaces' oleh Main Partner Lamitak bersama DDAP Architect. Dan tidak ketinggalan Tiltroom, kolaborasi Tuscany Marbles, Spatial Sonata, dan Oaken Lab yang menghadirkan dinding garam Himalaya yang menyala keemasan di antara pohon pinus.
CASA hadir sebagai media partner, menyusuri setiap sudutnya dari paviliun yang dirancang untuk hidup lebih lama dari pamerannya sendiri, hingga instalasi yang menyatu dengan pasir dan pohon pinus.
Tahun ini juga menandai debut Project Benih, inisiatif baru yang mempertemukan sembilan desainer dan sejumlah perajin dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan, termasuk nama-nama seperti Alvin Tjitrowirjo, Budiman Ong, dan Jin Kuramoto. Benih, yang berarti "biji" dalam bahasa Indonesia, dirancang sebagai program multifase untuk menanam ide dan kolaborasi lintas budaya yang akan terus tumbuh melampaui hari-hari pameran ini.
Media Lounge tahun ini juga tampil dengan wajah baru rancangan ATMA, terinspirasi konsep tetaring dan natah dalam budaya Bali, ruang tanpa sekat yang mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dan terhubung.
Program 360° Design Dialogues turut menghadirkan pembicara seperti Bethan Laura Wood, Peter Stutchbury, dan Fiona Lynch. Sementara itu, Architecture in Scale, dikurasi jurnalis desain Charmaine Chan, menghadirkan maket arsitektur dari 25 praktik se-Indonesia dan Asia, termasuk nama-nama besar seperti Andra Matin, Bill Bensley, dan Kengo Kuma.
Sumber foto: Jia CURATED
-




