Kembali hadir untuk ke tujuh kalinya festival seni dan desain, Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 2016. Pameran tahunan yang bertempat di Grand Kemang Hotel, Jakarta ini merupakan persembahan dari Yayasan Design+Art Indonesia. Bertemakan Seven Scenes, ICAD 2016 kali ini menampilkan tujuh proyek kolaborasi kreasi insan kreatif dari berbagai disiplin ilmu. Mereka adalah Agung Kurniawan (Seni Rupa), Budi Pradono (Arsitektur), Eko Nugroho (Seni Rupa), Hermawan Tanzil (Desain Grafis), Oscar Lawalata (Desain Tekstil), Tita Salina (Urban Play), dan Tromarama (Videografi).


Selanjutnya, ketujuh seniman ini bekerja sama dengan seniman/desainer muda dalam menginterpretasikan perubahan kota khususnya kawasan Kemang. Memilih area Kemang dikarenakan kawasan yang bertempat di Jakarta Selatan ini telah mempengaruhi cara hidup dan relasi-relasi sosial masyarakat modern. Maka dari itu, Hafiz Rancajale selaku kurator menyebutkan tujuh fragmen gagasan yang dihadirkan dalam pameran ICAD 2016: Seven Scenes merupakan cara untuk membaca berbagai perubahan dalam konteks kawasan dan relasi sosial.


Seperti karya dari Hermawan Tanzil, yang membuat sejarah perkembangan Kemang berjudul kemang RT/RW.



Selanjutnya instalasi karya Budi Pradono





Selain tujuh proyek kolaborasi terdapat pula instalasi fesyen kontemporer yang dikuratori oleh Ika Vantiani. Pada ICAD 2016:Seven Scenes pun semakin meriah dengan kehadiran Special Appearance karya ACG, Jakarta Vintage, Fondazione Vico Magistretti, dan Tero Annanolli. Pengunjung pun dapat pulang tanpa tangan hanpa, karena terdapat  zona Artists Merchandises, yang mana para pengunjung dapat membeli produk-produk kreatif dari berbagai brand lokal Indonesia.


Berikut karya ACG



Foto oleh CASA Indonesia

Fotografer: OKI