-
Di rumah yang makin dipenuhi layar dan notifikasi, membaca sering kali jadi kegiatan yang tertunda. Buku-buku tetap ada, tersusun rapi di rak, tapi jarang dibuka. Padahal, membaca bisa menjadi cara paling sederhana untuk berhenti sejenak menjauh dari hiruk-pikuk, dan kembali pada diri sendiri. Dari kebutuhan inilah perpustakaan rumah hadir, bukan sebagai ruang yang mewah, melainkan sebagai sudut tenang yang terasa personal.

Arsitek: Francine Denise Interiors dan Kiat Architects / Photo: Sefval Mogalana dan Melanie Tanusetiawan
Menariknya, perpustakaan rumah tidak harus berupa ruangan khusus. Justru banyak ruang baca yang lahir dari sudut-sudut kecil yang sebelumnya tak terpakai: pojok dekat jendela, dinding kosong di ruang keluarga, atau area di bawah tangga. Dengan penataan yang tepat, sudut-sudut ini bisa berubah menjadi ruang membaca yang hangat dan mengundang.

Interior: Seth Caplan
Rumah dan Kebutuhan Ruang Akan Membaca
Membaca di rumah punya suasana yang berbeda. Tidak terburu-buru, tidak perlu tujuan tertentu. Ruang baca memberi kesempatan untuk memperlambat tempo, bahkan di hari-hari yang sibuk. Bagi sebagian orang, sudut ini menjadi tempat untuk memulai pagi dengan tenang, atau menutup hari sebelum tidur.

Interior: @kurii__home
Dalam konteks rumah urban yang ukurannya semakin ringkas, ruang membaca juga menjadi solusi yang masuk akal. Tanpa menambah luas ruang, kita tetap bisa menghadirkan kualitas hidup lewat satu sudut kecil yang dirancang dengan niat. Lama-kelamaan, perpustakaan rumah tumbuh bersama penghuninya dan juga buku ikut bertambah, kebiasaan membaca terbentuk, dan ruang itu menjadi bagian alami dari keseharian.
Baca juga, Menarik! Ini Dia Desain Rumah untuk Para Pecinta Buku

Sibling Architecture
Lebih dari Sekadar Rak Buku
Perpustakaan rumah bukan soal rak besar atau koleksi buku yang banyak. Satu rak dinding, sebuah kursi nyaman, dan lampu baca sudah cukup untuk memulainya. Yang membuatnya berbeda dari rak buku biasa adalah fungsi dan suasananya. Ruang ini dibuat untuk dipakai, bukan sekadar dilihat.

Interior: @rittika_ariyonainterior
Susunan buku yang mudah dijangkau, tempat duduk yang nyaman, dan pencahayaan yang pas membuat orang ingin singgah lebih lama. Di titik ini, perpustakaan rumah menjadi cerminan pemiliknya dari jenis buku yang dikoleksi, hingga detail kecil yang menyertainya.

Arsitek: Bitte Design Studio / Photo: Ditho Sitompoel
Mengolah Sudut Kosong Menjadi Ruang Favorit
Langkah awalnya sederhana: memilih sudut yang tepat. Sudut dekat jendela menawarkan cahaya alami yang menyenangkan, sementara dinding kosong bisa menjadi latar visual yang kuat. Rak buku berperan lebih dari sekadar tempat menyimpan buku, ia ikut membentuk karakter ruang.

Interior: Subianto & Siane dan Inerre Interior / Photo: Mario Wibowo
Tambahkan kursi berlengan, bangku built-in, atau window seat untuk mengubah sudut tersebut menjadi tempat duduk yang nyaman. Perhatikan juga skala ruang yang cukup padat agar terasa hangat, tapi tidak berlebihan hingga terasa sempit.

Interior: Jennifer Pacca
Menciptakan Atmosfer yang Mengundang
Suasana adalah kunci dari ruang membaca. Pencahayaan yang lembut, terutama di malam hari, membuat mata lebih nyaman. Lampu baca dengan cahaya hangat bisa dipadukan dengan pencahayaan umum yang tidak terlalu terang.

Arsitek: Bitte Design Studio / Photo: Liandro N. Siringoringo
Material dan warna membantu menciptakan rasa tenang. Kayu, kain bertekstur lembut, dan warna-warna netral atau earthy memberi kesan akrab. Detail kecil seperti karpet, bantal, tanaman, atau meja kecil untuk secangkir teh membuat ruang terasa hidup dan personal.
Baca juga, 4 Inspirasi Library Home Yang Bikin Betah Baca Buku

Interior & Photo: @thistle.harvest
Pada akhirnya, perpustakaan di rumah bukan tentang gaya tertentu atau ukuran ruang. Ia tentang memberi tempat bagi kebiasaan membaca untuk hadir secara alami. Dari sudut kosong yang sederhana, lahir ruang membaca yang memikat yang berupa tempat buku, waktu, dan diri sendiri bisa bertemu dengan nyaman.
-




