Di sudut terpencil Melides, desa pesisir di kawasan Alentejo, Portugal, sekitar 130 kilometer selatan Lisbon, berdiri sebuah menara beton setinggi 8,5 meter yang muncul begitu saja dari rimbunan pohon pinus payung. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai pesawat luar angkasa, berbentuk silinder beton lebar dengan lubang bundar di bagian atapnya. Namun bagi pemiliknya, desainer sepatu asal Prancis Christian Louboutin, bangunan ini adalah sesuatu yang jauh lebih ringan dan personal. Ia menamainya La Folie, karena tujuannya memang sesederhana itu, yakni untuk kesenangan.
la folie berdiri di kompleks liburan pribadi louboutin, sekitar 20 menit berjalan kaki dari rumah utamanya. proyek ini digarap oleh arsitek tarek shamma dan menghabiskan waktu tujuh tahun untuk desain dan konstruksi sebelum akhirnya rampung pada 2021. bangunan bundar seluas 130 meter persegi ini dibuat dari beton bertulang, mengambil inspirasi dari dua sumber yang jauh dari estetika eropa pada umumnya yakni jantar mantar, kompleks observatorium astronomi dari abad ke-18 di jaipur, india, serta step wells rajasthan, sumur bertingkat kuno yang dikenal dengan tangga-tangganya yang tajam dan berlapis.
pengaruh itu terlihat jelas begitu memasuki la folie. interiornya dibangun dengan sistem tangga yang saling menyilang, mengarahkan pengunjung menyusuri ruang secara bertahap hingga mencapai puncak menara. di tengah ruangan terdapat perapian yang disinari cahaya alami dari oculus di atap, menciptakan suasana yang berubah sepanjang hari mengikuti pergerakan matahari. saat malam tiba, karakter la folie berubah total menjadi lampu led yang tertanam di dindingnya memancarkan gradasi warna merah muda, ungu, dan biru, mengubah menara batu ini menjadi ruang pesta yang intim.
meski disebut sebagai party tower, fungsi la folie sebenarnya lebih dari itu. louboutin sendiri menggambarkannya sebagai tempat untuk membaca, bermeditasi, atau sekadar menjamu teman-teman dengan segelas minuman. tidak ada agenda fungsional yang kaku di sini, hanya ruang yang dirancang murni untuk menyenangkan mata dan pikiran, persis seperti arti kata "folie" itu sendiri.
nama "folie" sendiri, dalam sejarah arsitektur lanskap eropa, merujuk pada bangunan dekoratif kecil yang dibangun di taman-taman besar sejak abad ke-18,struktur yang sengaja dibuat tanpa fungsi praktis, semata untuk memperindah pemandangan atau memicu rasa ingin tahu. dengan menamai menaranya demikian, louboutin seolah menegaskan bahwa la folie memang tidak perlu dijustifikasi lewat kegunaan formal apa pun, cukup menjadi ruang yang menyenangkan untuk didatangi, dan itu saja sudah lebih dari cukup.
Louboutin mengunjungi Melides setidaknya dua kali dalam setahun pada April untuk merancang koleksi musim dingin, dan pada musim panas untuk berlibur bersama kedua putri kembarnya. Kawasan ini sendiri belakangan dikenal sebagai titik kumpul baru para kreator dan seniman kelas dunia, termasuk seniman Jerman Anselm Kiefer dan arsitek Belgia Vincent Van Duysen yang juga memiliki rumah di area yang sama. Namun di antara semua rumah dan studio di Melides, La Folie tetap menjadi yang paling personal, sebuah menara yang lahir bukan dari kebutuhan, melainkan dari keinginan sederhana untuk punya tempat menikmati laut.