Di era ketika anak-anak makin akrab dengan layar, ruang baca punya tantangan baru agar tetap menarik. Buku tidak cukup hanya disusun rapi di rak, tetapi perlu dihadirkan lewat ruang yang memancing rasa penasaran. Ruang yang membuat anak ingin masuk, duduk sebentar, lalu tanpa sadar betah berlama-lama sambil membuka halaman demi halaman.


Baca juga, 4 Inspirasi Library Home Yang Bikin Betah Baca Buku






pingtan book house di china hadir dengan pendekatan yang berbeda. bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai ruang bermain dan berinteraksi. melalui desain yang hangat dan bersahabat, ruang baca ini mengajak anak menikmati buku dengan cara yang lebih alami, sekaligus membangun hubungan yang dekat antara ruang, cerita, dan pengalaman membaca itu sendiri.




1. Mengapa Ruang Baca Perlu Dirancang Berbeda?

Minat baca anak ternyata tidak hanya soal buku yang menarik, tetapi juga soal di mana dan bagaimana mereka menemukannya. Ruang baca yang terlalu formal dan kaku sering kali membuat anak merasa harus “diam dan tertib”, padahal mereka justru belajar dengan bergerak, bertanya, dan mencoba banyak hal. Ketika ruang tidak memberi kebebasan itu, buku pun perlahan terasa kurang menggoda.




di banyak tempat, perpustakaan masih identik dengan suasana sunyi dan aturan yang ketat. bagi anak, kondisi seperti ini bisa terasa membatasi rasa ingin tahu. membaca akhirnya dianggap sebagai aktivitas yang serius dan terpisah dari keseharian, bukan sebagai bagian alami dari bermain dan belajar.




karena itu, ruang baca perlu dipikirkan ulang sebagai ruang pengalaman. ruang yang mengajak anak masuk tanpa rasa canggung, memberi mereka kebebasan untuk bereksplorasi, dan menumbuhkan kedekatan emosional dengan buku. dari sinilah lahir pendekatan ruang baca yang lebih terbuka, hangat, dan benar-benar berpihak pada dunia anak.




2. Apa Itu Pingtan Book House?

Pingtan Book House adalah perpustakaan anak yang berada di desa Pingtan, China, dan dirancang oleh Condition_Lab. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang bermain dan berkumpul bagi anak-anak sekitar. Jauh dari kesan formal, suasananya terasa akrab dan terbuka, membuat siapa pun mudah merasa diterima sejak pertama kali masuk.






daya tarik utamanya terletak pada bentuk ruang di dalamnya. dua tangga spiral dari kayu saling berkelindan dan mengambil peran ganda sebagai jalur sirkulasi, tempat duduk, sekaligus rak buku. anak-anak bebas naik, duduk, atau bersembunyi di sela strukturnya, sehingga kegiatan membaca terasa seperti bagian dari petualangan, bukan kewajiban.




kayu dipilih sebagai material utama dengan merujuk pada arsitektur rumah panggung tradisional setempat. selain menghadirkan suasana hangat, material ini juga menjaga hubungan bangunan dengan konteks lingkungannya. pingtan book house pun hadir bukan sebagai bangunan yang mencolok, melainkan sebagai ruang yang menyatu secara alami dengan kehidupan desa dan komunitasnya.




Baca juga, Perpustakaan Berdesain Unik ini jadi Latar Drama Korea!


3. Bagaimana Desain Menghidupkan Pengalaman Membaca?

Desain Pingtan Book House tidak meminta anak untuk duduk diam dan membaca dengan cara yang kaku. Ruang justru memberi kebebasan bagi anak untuk bergerak, memilih sudut favoritnya, dan menemukan buku sambil berkeliling. Tangga, lantai, dan rak dirancang menyatu, mendorong anak untuk bereksplorasi dan menjadikan membaca sebagai pengalaman yang terasa alami.




pencahayaan alami menjadi elemen penting yang membentuk suasana ruang. bukaan dan jendela diatur agar cahaya lembut masuk mengikuti aktivitas anak di dalam bangunan. kehadiran cahaya ini membuat ruang terasa hangat dan menenangkan, sekaligus menciptakan suasana membaca yang lebih intim dan menyenangkan.




Lebih dari sekadar memenuhi fungsi, desain Pingtan Book House menunjukkan bagaimana arsitektur dapat membangun hubungan emosional antara anak dan buku. Ruang tidak lagi menjadi latar pasif, tetapi ikut berperan dalam proses belajar. Dari sini terlihat bahwa ketika ruang dirancang dengan empati, kebiasaan membaca dapat tumbuh dengan sendirinya dan bertahan dalam jangka panjang.


Arsitek: CONDITION_LAB
sumber foto: Sai Zhao