Dalam dunia arsitektur lingkup internasional, EKAR Architects asal Thailand mencuri perhatian melalui rethinking bagaimana Thainess dapat diekspresikan ke masa kini sebagai pengalaman hidup yang terus berkembang, bukan sekadar sebagai identitas visual yang terkesan kaku. Alih-alih mengandalkan motif berunsur tropis yang kerap dikenal ataupun ornamen bernilai sejarah, arsitek melihat arsitektur sebagai sebuah proses dalam budaya yang merespons terhadap kehidupan sehari-hari, memori, dan konteks tempat.
Pendekatan yang konsisten inilah mengantarkan ke ajang Golden Pin Design Award, sebuah penghargaan desain berprestise di Taiwan dan salah satu indikator unggulan dalam industri desain kontemporer di Asia. Usai meraih Best Design of the Year pada tahun 2021 lewat Dog / Home, sebuah proyek hunian yang mengeksplorasi relasi cohabitation antara manusia dan hewan peliharaan, EKAR Architects kembali meraih penghargaan Spatial Design Mark dalam Golden Pin Design Award tahun 2024 melalui dua proyek hospitality di Thailand, yaitu The Salya Hotel di Chiang Mai dan Pusayapuri Hotel di Suphan Buri.
Baca juga, Hotel Di Meksiko Tawarkan Sentuhan Lokal Pada Desainnya
Pertama kali berdiri di Taiwan pada tahun 1981, Golden Pin Design Award (GPDA) kini dikenal sebagai salah satu penghargaan desain terkemuka di kawasan Tiongkok. Sejak 2014, GPDA terbuka bagi karya desain berasal dari seluruh dunia, menjadikannya ajang internasional dengan misi mengangkat desain domestik sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan desain lintas negara. GPDA menggalakkan desain yang inovatif serta kreatif lewat empat kategori utama dimulai dari desain produk, komunikasi, spasial, hingga integrasi.
Dalam rancangan, arsitek berusaha menghindari penggunaan simbolisme yang berunsur Thailand secara eksplisit. Sebaliknya Ekaphap Duangkaew (Founder EKAR Architects), mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana arsitektur dapat mengembalikan jiwa lokal ke dalam fokus desainnya di tengah perubahan budaya yang begitu cepat?
Berasal dari Chiang Mai dan kini berbasis di Bangkok, Ekaphap Duangkaew memandang budaya sebagai hal yang dinamis. “Kita cenderung ingin mempertahankan sebuah elemen serupa kondisi aslinya pada 1 abad yang lalu. Padahal itu tidak sustainable. Budaya seharusnya diciptakan kembali oleh tiap generasi arsitek,” tuturnya.
Baca juga, Wajah Lain Dari Perpustakaan Kekinian di Thailand
Keyakinan inilah yang menjadi filosofi arsitek. Ketimbang merancang sesuatu yang menggambarkan Thailand dengan gamblang, biro studio ini justru berangkat dari pengalaman hidup. “Jika Anda jujur pada diri sendiri, personal identity dan sebagai orang Thailand akan muncul dengan sendirinya,” ucap Ekaphap.
The Salya Hotel maupun Pusayapuri Hotel merespon situasi yang berbeda. Ada yang berada di kawasan dengan budaya terkomodifikasi oleh pariwisata, sementara kawasan lainnya tengah menghadapi risiko hilangnya nilah sejarah akibat bukti fisik yang kurang kuat. Namun kedua hotel membawa tema yang sama, yaitu bagaimana arsitektur bantu merasakan kembali lokalitas di kawasan tersebut.
Menemukan kembali ritme perkotaan yang otentik di tengah maraknya pariwisata
Dalam beberapa tahun terakhir, Jalan Nimmanhaemin di Chiang Mai berubah dengan begitu cepat. Hotel-hotel baru bermunculan dan saling bersaing melalui atraksi serta beragam kemudahan untuk menarik turis yang sedang berkunjung dalam jangka waktu singkat. Di tengah area seperti ini, The Salya Hotel yang identik dengan lingkungan yang menenangkan serta seperti berada di kawasan residensial mulai kehilangan daya saingnya.
Ketika arsitek terlibat, mereka mengajukan pertanyaan,“Mengapa kita tidak bisa tetap menjadi diri sendiri? Daripada mengejar budaya yang terus berubah, bagaimana jika kita membawa kembali pengalaman yang dirasakan saat di kawasan ini dahulu kala?”
Dengan total tiga lantai, hotel ini ini terletak di Jalan Nimman dengan desain representasikan rangkaian pegunungan yang membentang di sepanjang jalan selayaknya makna kata salya yang berarti gunung. Dinding bata mengingatkan pada tembok kota tua Chiang Mai dengan bukaan tangga membingkai pandangan ke arah Doi Suthep yang dianggap gunung keramat di kota tersebut. Sebuah courtyard terbuka menciptakan rasa tenang sehingga memungkinkan hotel terasa damai meski berada di tengah lingkungan urban yang hiruk pikuk.
Baca juga, Bermalam di Atas Situs Arkeologi di Antakya, Turki
Menariknya, tidak ada ukiran Lanna atau referensi dekoratif yang gamblang menunjukkan arsitektur tradisional Chiang Mai. “Kita menggunakan bata atau tembok kota untuk permudah penjelasan,” ujar Ekaphap. “Namun pada akhirnya, unsur Chiang Mai bukanlah tentang pola atau ornamen, melainkan tentang apa yang Anda rasakan saat berada di sana.”
arah cahaya, aliran udara, dan heningnya ruang merupakan pengalaman-pengalaman menggelitik sensor tubuh yang mendefinisikan interpretasi ekar architects terhadap chiang mai. hal yang dipertahankan bukan hanya identitas visual, melainkan berupa atmosfer yang terasa lambat, lembut sembari berorientasi pada pegunungan.
Tak hanya sekadar bangunan, arsitek berharap The Salya Hotel dapat menjadi contoh bagi kawasan sekitarnya yang menunjukkan bahwa arsitektur yang selaras dengan kehidupan sekitarnya tetap dapat berhasil secara komersial. Jika sebuah kawasan berani memperlambat pace kehidupannya, maka gaya hidup sebelumnya berkemungkinan kembali menemukan ruang dengan sendirinya.
Rekonstruksi Landmark dari Keping Reruntuhan
Berbeda dengan Chiang Mai yang berubah dengan cepat, U Thong di Provinsi Suphan Buri menyimpan kisah yang berbeda. Dianggap warga setempat sebagai salah satu kota tertua di Thailand, serupa dengan Ayutthaya dan Sukhothai, sebagian besar sejarah U Thong terhapus akibat perang dan gempa bumi. Yang tersisa hanyalah potongan dasar pagoda, batu-batu yang berserakan, dan lahan kosong yang hanya ditandai papan sederhana menginformasikan apa yang pernah berdiri di sana.
“Ketika pertama kali tiba, hal yang kami lihat hanyalah lahan terbuka dan bata-bata yang hancur,” kenang EKAR Architects. “Beserta sebuah papan bertuliskan kalau di sini pernah berdiri pagoda besar ratusan tahun lalu. ”
Meski demikian, dapat dirasakan bahwa masyarakat setempat memiliki kebanggaan tersendiri. Bukan hanya pemilik hotel, tetapi komunitas yang lebih luas juga meyakini akan U Thong di masa lampau. Masyarakat lokal turut mengumpulkan sumber daya mereka sendiri demi membangun museum agar menjaga sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun.
Baca juga, Sala Ayutthaya: Butik Hotel Privat di Tepi Sungai
Hal ini memperjelas arah desain yang ingin diterapkan oleh arsitek. Ketimbang merekonstruksi kejayaan di masa lampau, karya ini akan mengubah hal yang tersisa menjadi sebuah simbol kebanggaan yang baru.
Fasad hotel menerjemahkan geometri dasar stupa kuno ke dalam modul arsitektur kontemporer. Bentuk-bentuk yang menonjol ke luar maupun ke dalam ciptakan naungan sekaligus memperluas ruang interior berkat bay window. Material dan teknik konstruksi modern menafsirkan kembali tekstur dari reruntuhan sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Terletak di jalan utama menuju U Thong, Pusayapuri Hotel menjadi bangunan besar pertama yang ditemui pengunjung saat tiba di area tersebut. “Fokuslah pada apa yang masih dimiliki dan ciptakan sejarah dari fondasi tersebut,” jelas arsitek.
Dengan demikian, hotel ini dapat berfungsi sebagai gerbang baru yang menyambut pengunjung sekaligus memungkinkan sejarah U Thong yang telah lama tersimpan bisa kembali hadir di masa kini.
Saat Arsitektur Kembali Hidup, Tak Perlu Penegasan Tambahan atas Unsur Thailand
Dalam kedua proyek tersebut, EKAR Architects menolak untuk menamai secara spesifik citra budaya pada sebuah tempat. Sebaliknya, mereka bergerak berdasarkan pengalaman personal dan kondisi existing.
Baca juga, 9 Desain Hotel yang Unik dan Seru
Meski menjadi bagian dari lanskap arsitektur kontemporer Thailand, Ekaphap Duangkaew mengusulkan perspektif lain,“Mari berhenti bertanya apakah sesuatu hal miliki sentuhan Thailand atau tidak. Jadilah diri sendiri karena ketika Anda melakukannya, esensi diri serta budaya negara akan muncul dengan sendirinya.”
Dalam karya-karyanya, arsitektur berangkat dari kehidupan nyata sehingga identitas lokal bukanlah berupa simbol, melainkan melalui ruang, atmosfer, dan pengalaman sehari-hari. Bagi audiens di luar Thailand, pendekatan ini menjadi pengingat yang kuat bahwa lokalitas bukanlah untuk mendekorasi sesuatu, namun hal yang dapat dirasakan melalui arsitektur yang baik.