Sejak didirikan pada 17 September 1959, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) telah mengayomi ribuan arsitek serta tenaga profesional di bidang arsitektur di Indonesia. 


Beraneka bibit potensial dimiliki para arsitek lokal ini dan turut memprakarsai IAI Award pada tahun 1982 untuk mengapresiasi karya terbaik milik anak bangsa. Pada tahun itu, penghargaan diberikan kepada karya arsitektur berdasarkan efisiensi lantai bangunan, optimalisasi pemanfaatan lahan, serta kejelasan ekspresi dari bangunan tersebut. 




Empat dari delapan karya yang meraih penghargaan di IAI Awards 1982 / Dokumentasi IAI


Seiring berjalan waktu, faktor penilaian ini banyak berubah menyesuaikan keadaan dan tuntutan pada zamannya. Di antaranya adalah karya dinilai berdasarkan apakah bangunan telah berfungsi dengan baik, mengikuti regulasi tata bangunan, dan tidak terganjar akan masalah pajak, dan masih banyak lagi. 


Pada tahun 2018, IAI Award kembali diadakan sejak Agustus 2018 dan melibatkan juri dengan beragam latar belakang asal dan profesi. Para juri tersebut adalah Achmad Delianur Nasution (Medan), Alvar Pradian Mensana (Jakarta), Harjono Sigit (Surabaya), Jatmika Adi Suryabrata (Yogyakarta), Ketut Arthana (Bali), Avianti Armand (Jakarta), dan Yuswadi Saliya (Bandung). 


Tim Juri IAI Awards 2018 / Dokumentasi Tim IAI Awards


IAI Awards kali ini menobatkan sejumlah karya terbaik dari arsitek lokal dalam empat kategori, yaitu Pendidikan, Perkantoran, Pelestarian, dan Peribadatan.


Berbeda dengan IAI Award tahun-tahun sebelumnya, pada IAI Award 2018 terdapat proses seleksi berbeda guna meningkatkan objektivitas saat penilaian. Dari 179 karya yang ikut serta, para juri akan memilih hingga 21 karya untuk diinspeksi oleh perwakilan IAI terpilih, yang berada di daerah dimana proyek desain tersebut berada. Usai masa inspeksi tersebut, para juri akan menilai berdasarkan presentasi langsung yang diberikan oleh arsitek dan hasil laporan dari petugas inspeksi yang telah ditunjuk sebelumnya.


Tepat usai Musyawarah Nasional XV IAI, yaitu pada 22 September 2018, pemenang dari IAI Awards 2018 diumumkan. Siapa sajakah pemenang dari IAI Awards 2018? Simak jawabannya dalam daftar berikut ini. 


Sekolah BPK Penabur Summarecon di Bekasi, karya Arsitek Ary Indrajanto dari Aboday Architect.




Kampus Universitas Media Nusantara di Serpong, karya Arsitek Budiman H. Hendropurnomo dari pt. DCM.




Kantor Studio Air Putih @Batu Bata di Serpong, karya Denny Gondojatmiko dari Studio Air Putih.






Pelestarian Roemah Langko di Mataram, karya Nyoman Popo Danes dari Popo Danes Architects.


Roemah Langko oleh Popo Danes Architects / Popo Danes Architects / IAI



Perkantoran Grand Rubina di Kuningan, karya Prasetyoadi dari PDW Architects.




Pelestarian Kantor Graha Putra Mandiri di Medan, karya Ramadhoni Dwi Payana dari Simon Dhoni Studio.




Mesjid Al-Irsyad KBP di Padalarang, karya Ridwan Kamil dari Urbane Indonesia.


Mesjid Al-Irsyad oleh Urbane / Emilio Photoimagination / Archdaily



Demikian pula juga kategori Lansekap Padusan di Kulon Progo karya Eko Prawoto yang meraih penghargaan Citation.


Dalam perhelatan ini, Mohammad Ramdhan Pomanto (Walikota Makassar), Arsitek Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), arsitek Mochamad Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), turut mendapatkan penghargaan atas prestasi dan jasa-jasanya mereka mengembangkan daerah dalam bidang arsitektur. Kemudian Arsitek Bambang Sutrisno dan Sigit Sosiantomo mendapat penghargaan dan apresiasi atas jasa-jasanya beliau, yang selalu mendorong berhasilnya melahirkan Undang-Undang Arsitek.


Kata sambutan oleh Ridwan Kamil di Malam penghargaan IAI Awards 2018 / Tim Dokumentasi MUNAS IAI 2018


Foto Teaser: Pemenang IAI Awards 2018 bersama Ketua IAI, Ahmad Djuhara / Dokumentasi IAI
Dok. Tim Ikatan Arsitek Indonesia, CASA Indonesia